JAKARTA - Teater Pandora berkolaborasi dengan Relawan Pengusaha Muda Nasional (Repnas) DKI Jakarta menggelar kampanye politik kreatif lewat aksi teatrikal ludruk berjudul Sumenjab atau 'Suto Mencari Jabatan'.
Ketua Dewan Pembina Repnas DKI Jakarta Afifuddin Suhaeli Kalla mengatakan, gelaran pertunjukkan teater ini merupakan medium kreatif yang bisa menjadi ruang pertemuan bagi anak muda untuk berdiskusi dan bertukar pikiran secara nyata.
Menurut dia, pertunjukkan teater merupakan cara kreatif dan positif agar anak muda semakin menyadari peran pentingnya dalam masyarakat, termaksud untuk menikmati jalannya kontestasi politik secara gembira.
"Diharapkan bahwa melalui kegiatan-kegiatan seperti ini, anak muda bisa mendapatkan narasi dan hiburan alternatif di tengah kondisi sosial-politik yang tengah terbelah. Millenial, berbeda dengan generasi yang lebih senior yang tentu memiliki cara sendiri dalam melihat dan menikmati politik secara gembira," ujar Afifuddin di Jakarta, Senin (25/2/2019).
Ia menjelaskan, pementasan Suto Mencari Jabatan yang dibawakan oleh Teater Pandora adalah salah satu cara millenial untuk menyatakan sikap terhadap kondisi sosial dan politik yang ada. Menurut dia, apapun pilihan politiknya, perdamaian dan kolaborasi antarpemuda adalah tetap yang utama.
"Secara mendasar, kegiatan ini merupakan usaha untuk menguatkan persatuan kita, sebuah seruan bagi anak muda untuk hijrah dari pesimis ke optimis, dari konsumtif ke produktif, dari perpecahan ke persatuan, dan dari individualistik ke kolaborasi," paparnya.
Teater Pandora biasanya mementaskan gaya realis. Namun, kali ini pertunjukkan Suto Mencari Jabatan dibawakan bergenre ludruk dan lenong lantaran memiliki karakter guyonan dan kritik sosial.
Dalam teater itu berceritakan Sumenjab yang berbicara mengenai kekuasaan, jabatan, dan kepentingan dalam menyambut pesta demokrasi yang digelar setiap lima tahun.
Sumenjab menjadi sebuah narasi alternatif di antara berbagai narasi sosial-politik yang saling membenturkan, dengan menghadirkan sosok Suto sebagai gabungan dari dua kandidat yang sedang bertarung saat ini. Adapun gaya ludruk dan lenong dipilih karena dinilai dapat menguraikan tema-tema yang berat ke dalam cerita sehari-hari yang penuh dengan guyonan.
"Intinya kami ingin menyampaikan pesan bahwa politik itu cuma sesaat. Jadi, jangan sampai yang sesaat itu merusak pertemanan kita yang selamanya," ujar sutradara pertunjukkan Yoga Mohamad.
"Melalui pementasan ini, kami ingin mengajak penonton untuk tertawa sekaligus mikir bahwa anak muda itu harus pintar, jangan mau dipecah-belah, dan bahwa politik itu dapat dinikmati secara gembira karena ternyata banyak kelucuan dan keluguan terjadi di belakangnya," tandas Yoga.
(Khafid Mardiyansyah)