"Perbedaan tafsir dan sikap pribadi terhadap netralitas Muhammadiyah menjadi hal yang biasa dan seyogyanya, tetapi yang tidak dibenarkan adalah melemahkan, mendelegitimasi, serta mereduksi keputusan organisasi," katanya.
Zulfikar menambahkan, warga persyarikatan sudah cerdas dan paham mengenai mana sikap organisasi dan sikap pribadi sebagai warga Muhammadiyah. Dengan adanya pernyataan Din tersebut, justru berpotensi menimbulkan polemik dan kebingungan warga Muhammadiyah.
"Tugas para pimpinan dan tokoh Muhammadiyah adalah bagaimana memberikan arah, panduan dan pedoman supaya perbedaan pilihan politik tidak menimbulkan perpecahan dan menjaga kekompakan dalam ber-Muhammadiyah," tuturnya.
Zulfikar mengungkapkan itu berangkat dari kegelisahan terhadap tulisan Din yang berjudul “MUHAMMADIYAH DAN PILPRES 2019: Tak Boleh Netral”. (Baca Juga: Perindo Diyakini Lolos ke DPR, Hary Tanoe: Kader Gembira dan Akan Semangat Bekerja)
(Arief Setyadi )