Sementara pada survei Litbang Kompas Oktober 2018 lalu, perolehan suara keduanya masih berjarak 19,9 persen dengan keunggulan suara di pihak Jokowi-Ma'ruf. Saat itu, elektabilitas Jokowi-Ma'ruf 52,6 persen, Prabowo-Sandiaga 32,7 persen, dan 14,7 responden menyatakan rahasia.
Menurut Influencer TKN, Eva Kusuma Sundari, jajak pendapat yang dilakukan Litbang Kompas memiliki kemiripan dengan survei yang dilakukan "Polmark", lembaga milik Eep Saifullah Fatah. Angka undecided voter di dua lembaga tersebut terbilang tinggi.
"Di riset-riset yang undecided voternya kecil itu Jokowi selalu perolehannya di atas 50 persen, bahkan sampai ada yang 58 persen. Itu ada ada di delapan atau tujuh lembaga survei. Tapi di dua riset, risetnya Eep dan Kompas itu Jokowi di sekitar 50-an aja. Ternyata undecided voters-nya tinggi," kata Eva kepada wartawan, Jumat (22/3/2019).
Politisi PDI Perjuangan itu berpendapat, perolehan elektabilitas yang berada di kisaran 50 persen disebabkan perilaku undecided voter. "Kalau undecided voternya terbuka, Jokowi naik. Nah kalau undecided voters-nya itu enggak mau jawab dan ngomong rahasia, itu Pak Jokowi rendah. Ini indikasinya gampang, ternyata undecided voter kecenderungannya pro ke Jokowi. Jadi saya enggak khawatir bahwa nanti ketika pencoblosan itu Pak Jokowi perolehannya akan 58 persen. Ya di sekitar itu," ujarnya.
Terkecuali, kata dia, jika banyak undecided voter yang memilih golput. Kondisi inilah yang harus diantisipasi. "Jadi undecided voter itu kalau mau dipolarisasi di bagi ke dua kandidat, lebih banyak memilih Pak Jokowi," ungkap dia.
Eva optimistis pasangan Jokowi-Ma'ruf meraup 60 persen suara. Namun hal itu tergantung perilaku undecided voter. Sementara, Eva berkata bahwa mesin parpol pengusung 01 sudah bekerja optimal untuk memenangkan kontestasi.