Hal serupa juga diucapkan Fazri. Ia merasa tarif sebesar itu kurang menarik masyarakat menengah ke bawah untuk beralih ke transportasi umum. Ia memprediksi warga yang terbiasa menggunakan motor tidak akan pernah tertarik naik MRT dengan tarif maksimal Rp14.000.
"Mereka yang naik motor saya rasa kurang tertarik untuk naik MRT kalau harganya tetap Rp14.000. Karena tarif segitu, dirasa lebih sangat mahal jika dibandingkan pengeluarannya dalam membeli bensin," kata pria yang berdomisili di Fatmawati, Jakarta Selatan itu.
"Masih enakan naik motor. Aksesnya belum bisa ke mana-kemana. Harus transit-transit. Nanti mesti sambung lagi naik ojol. Ongkos sehari bisa Rp50.000 karena harus nyambung dengan transportasi lain," kata Putra, warga lainnya.
Sementara itu, Division Head Corporate Secretary MRT Jakarta, Muhamad Kamaluddin menyatakan, dalam proses penetapan tarif pihaknya mengajukan dua skema penghitungan. Di mana dengan tarif yang saat ini ditetapkan sudah masuk dalam salah satu skema mereka.