JAKARTA - Debat keempat Pilpres 2019 menyajikan adu argumen antar Capres, salah satunya tentang pertahanan. Prabowo Subianto capres nomer urut 02 menyatakan bahwa tujuan utama diplomasi adalah untuk memajukan kepentingan nasional sebuah negara, melalui jalan-jalan perundingan dan pertukaran diplomasi. Prabowo pun menilai kekuatan pertahanan Indonesia sangat rapuh.
“Apa yang disampaikan Pak Prabowo dalam debat soal pertahanan Indonesia rapuh sesungguhnya spekulatif dan tidak membaca data dengan benar,” ujar juru bicara Tim Kampanye Nasional Jokowi-Amin Wanda Hamidah dalam keterangannya yang diterima, Senin (1/4/2019).
Wanda mengatakan Prabowo spekulatif, lantaran Indonesia kini berada di urutan 15 dari 137 negara. Bahkan, lanjut Wanda, Singapura yang menganggarkan dana militer 30 persen dari GDP-nya dibandingkan Indonesia yang hanya 0,8 persen, berada di peringkat 59.
Wanda saat bertemu dengan Cawapres KH Maruf Amin
(Baca Juga: Prabowo Dinilai Perlu Memahami Pertahanan dan Keamanan Zaman Now)
Peringkat ini disusun berdasarkan skor Powerindex suatu negara yang dihitung dengan menggunakan 55 faktor individu dan kolektif.
“Indonesia merupakan negara yang kuat dibidang pertahanan, bahkan untuk kawasan Asia Tenggara militer kita merupakan pasukan terbaik dan terkuat,” ucap caleg DPR RI Partai Nasdem Dapil Jakarta Timur ini.
Karena itu, kata dia, pernyataan Prabowo bahwa pertahanan kita rapuh perlu mendapatkan koreksi dengan melihat fakta dan data secara komprehensif.
“Data dan fakta menunjukkan sebaliknya, Indonesia memiliki pertahanan kuat, bukan rapuh,” ujar Wanda.
(Angkasa Yudhistira)