Kibarkan Bendera NU, Prabowo-Sandi Disebut Tak Bakal Didukung Nahdliyin

Fadel Prayoga, Jurnalis
Minggu 07 April 2019 07:22 WIB
Sandiaga kibarkan bendera NU saat kampanye di Lumajang. (Foto: Istimewa)
Share :

JAKARTA - Wakil Ketua Tim Kampanye Nasional (TKN) Jokowi-Maruf, Arsul Sani mengatakan, dirinya melihat peluang pasangan capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno mendapat dukungan dari kaum Nahdliyin pada perhelatan Pilpres 2019 semakin tertutup. Hal itu disebabkan aksi blunder Sandiaga mengibarkan bendera Nahdlatul Ulama (NU) saat kampanye terbuka di Lumajang.

Politikus PPP itu menilai, dengan mengibarkan bendera NU dalam kegiatan politik, maka eks Wakil Gubernur DKI Jakarta itu justru menciptakan resistensi yang bertambah tinggi di keluarga besar NU. Sehingga, akan menimbulkan rasa antipati kepada paslon nomor urut 02. “Jadi alih-alih dapat tambahan suara, maka aksi Sandi itu malah menutup potensi tambahan dukungan dari kaum Nahdliyin,” kata Arsul kepada Okezone, Minggu (7/4/2019).

(Baca juga: BPN: Sandiaga Spontan Kibarkan Bendera NU di Lumajang)

Arsul justru membandingkan Sandiaga dengan cawapres Ma’ruf Amin yang notabene seorang petinggi di dalam struktural organisasi Islam terbesar di Indonesia itu, namun tak pernah sekalipun membawa atribut NU dalam kegiatan kampanyenya.

“Di paslon 01 yang notabene cawapresnya adalah pimpinan tertinggi NU saja dan dukungan NU begitu meluas, namun baik Pak Jokowi maupun Kiai Ma’ruf tidak pernah membawa langsung atribut dalam kampanye,” ujarnya.

Akibat tindakan itu, Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Lumajang, Jawa Timur merasa keberatan. Aksi pengibaran bendera NU dalam kegiatan kampanye politik semacam dianggap sebagai bentuk pelecehan kepada Jam'iya NU yang dapat menimbulkan gesekan horizontal di tengah masyarakat.

(Qur'anul Hidayat)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya