Menanti Pertemuan Jokowi dan Prabowo

Fadel Prayoga, Jurnalis
Jum'at 19 April 2019 06:00 WIB
Jokowi dan Prabowo Subianto (Foto: Okezone)
Share :

JAKARTA - Pasca-pencoblosan pemilihan presiden (Pilpres) 17 April 2019, belum membuat sengitnya pertarungan merebut kekuasaan lima tahunan itu berakhir. Proses rekapitulasi resmi Komisi Pemilihan Umum (KPU) masih berjalan, sedangkan hitung cepat (quick count) sudah bermunculan.

Masing-masing calon merasa optimistis meraih kemenangan, bahkan ada yang sudah deklarasi. Di balik itu semua, ada keinginan dari seorang Calon Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk bertemu dengan rivalnya, Prabowo Subianto.

Dalam sebuah jumpa pers, Jokowi mengaku akan mengirim utusan menemui Prabowo untuk mencari waktu bisa bertemu. Hal itu sekaligus menegaskan, bahwa dirinya dan Ma'ruf Amin tak akan memutus tali persahabatan dengan Prabowo-Sandiaga Uno hanya karena pilpres.

"Sehingga, tadi siang saya mengutus seseorang untuk bertemu Beliau, agar kita bisa berkomunikasi, dan kalau bisa bertemu, sehingga rakyat melihat bahwa pemilu kemarin selesai dengan lancar, aman, lancar," ujar Jokowi di Restoran Plataran, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis 18 April 2019.

(Baca Juga: PP Muhammadiyah: Hasil Pemilu Harus Diterima dengan Jiwa Besar)

Rencana Jokowi disambut positif Prabowo, kendati diakui mantan Danjen Kopassus itu belum ada utusan Jokowi yang datang. Namun, ia menekankan, kalau hubungannya dengan Jokowi-Ma'ruf tetap baik.

"Tapi yang jelas hubungan saya baik dengan Beliau dan semua ya, kita ingin baik," kata Prabowo di Kertanegara, Jakarta.

Jokowi dan Prabowo bukan kali pertama bersaing di Pilpres. Pada 2014, keduanya juga bersaing, meski dengan pendamping atau calon wakil presiden yang berbeda. Kala itu, Prabowo yang berdampingan dengan Hatta Radjasa tumbang setelah KPU mengumumkan rekapitulasi suara pada 22 Juli.

Jokowi-Jusuf Kalla meraih 70.997.85 suara (53,15 persen), sementara Prabowo-Hatta meraih 62.576.444 suara (46,85 persen). Selisih suara keduanya 8.421.389 suara.

Koalisi Prabowo sempat menggugat ke Mahkamah Konstitusi (MK), hingga akhirnya ditolak gugatannya. Tak berselang lama, ada komunikasi yang terjalin di antaranya masing-masing koalisi. 

Tiga hari menjelang pelantikan, Prabowo akhirnya menerima kunjungan Jokowi di kediamannya, Jalan Kertanegara, Jakarta, pada 17 Oktober 2019. Ia mengakui kekalahan di Pilpres.

"Hari ini, saya kedatangan tamu terhormat, Saudara Joko Widodo, yang insya Allah akan segera dilantik sebagai presiden Republik Indonesia. Saya menerima beliau di rumah Soemitro, almarhum ayah saya," kata Prabowo.

"Saya kira dalam pertemuan yang penuh persahabatan ini, saya ucapkan selamat atas dilantiknya beliau sebagai presiden pada tanggal 20 Oktober mendatang," imbuh Prabowo.

Prabowo kala itu memuji Jokowi sebagai seorang patriot yang ia yakini memiliki napas perjuangan yang sama dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.

(Baca Juga: Mahfud MD Minta Jangan Resah dengan Isu People Power)

Pada 17 Oktober kebetulan bertepatan dengan kelahiran Prabowo Subianto, Jokowi pun mengucapkan selamat ulang tahun, dan menegaskan bahwa Prabowo adalah bagian dari perjalanan hidupnya.

"Saya akan selalu mengenangnya sebagai orang yang baik dan bersama-sama menjadikan bangsa dan negarai ini lebih baik. Selamat ulang tahun Pak Prabowo," kata Jokowi kala itu.

Seusai bertemu Jokowi, Prabowo langsung menyampaikan sebuah imbauan kepada para pendukungnya agar bisa legowo seperti dirinya.

"Sahabatku sekalian,

Saya tahu banyak di antara kalian yang merasa masih tidak menerima, masih terluka, karena kita telah dikhianati oleh sistem yang tidak baik. Tetapi hal ini tidak berarti bahwa kita harus menimbulkan perpecahan di bangsa kita.

Seperti sahabat ketahui, dalam berpolitik saya selalu mengutamakan keutuhan bangsa dan kejayaan Republik Indonesia. Saya paham bahwa ada negara-negara tertentu yang selalu ingin Indonesia pecah. Ada yang ingin rakyat Indonesia tetap tergantung sama mereka. Karena itulah saya ingin menjaga persatuan nasional.

Setelah saya renungkan mendalam, saya melihat di pihak PDIP dan koalisi mereka masih banyak patriot-patriot, anak-anak Indonesia yang juga cinta bangsa dan negara dan rakyat. Karena itulah saya memilih untuk terus berjuang untuk nilai-nilai yang kita pegang teguh yaitu Pancasila, UUD 1945 yang utuh dan asli, NKRI dari Sabang sampai Merauke yang kuat, yang adil, yang sejahtera, yang berdiri di atas kaki kita sendiri dan yang ber-Bhinneka Tunggal Ika.

Saya akan terus perjuangkan nilai-nilai itu, tetapi dalam kerangka senantiasa menjaga jangan sampai terjadi perpecahan di antara sesama bangsa Indonesia. Kita harus ingat bahwa pihak yang berseberangan dengan kita dalam sebuah pertarungan politik tidak serta merta dan tidak otomatis harus menjadi musuh kita.

Dari sejak awal saya katakan bahwa pesaing kita adalah saudara kita juga. Memang ada pihak-pihak yang penuh kebencian, prasangka buruk, keserakahan, kedengkian dan jiwa yang curang. Tapi ingat dari awal saya menganjurkan kepada lingkungan saya, pendukung saya, sahabat-sahabat saya, apa yang saya tuntut dari diri saya sendiri yaitu berjiwalah sebagai seorang kesatria, sebagai seorang pendekar. Kalau ada pihak yang menebarkan kebencian, fitnah, kepada kita bukan berarti kita harus balas dengan sikap yang sama. Janganlah fitnah kita balas fitnah, janganlah kebencian kita balas kebencian. Janganlah kita bertindak sebagai individu yang berjiwa Kurawa.

Itulah sikap saya, dan karena itulah saya memilih jalan yang saya tempuh sekarang. Bukan berarti kita merendahkan nilai-nilai kita atau perjuangan kita. Semakin kita merasa benar, semakin pula kita harus rela menghormati orang lain, pihak lain. Kalau orang lain menghormati kita, kita menghormati orang tersebut. Bahkan kalaupun mereka tidak hormat pada kita, tidak ada salahnya kita menghormati terus.

Saya mohon semua pendukung-pendukung saya untuk memahami hal ini. Saya mengerti sebagian dari saudara-saudara belum bisa menerima sikap saya. Tetapi percayalah, seorang pendekar, seorang kesatria harus tegar, harus selalu memilih jalan yang baik, jalan yang benar. Menghindari kekerasan sedapat mungkin. Menjauhi permusuhan dan kebencian.

Sahabat, kita bukan pihak penakut. Sejak dari masa muda, saya pernah hidup sebagai seorang prajurit Tentara Nasional Indonesia. Berkali-kali saya terlibat dalam operasi-operasi militer, dalam kontak-kontak tembak dengan musuh negara. Saya paham apa artinya kekerasan. Karena itulah saya sadar bahwa seorang pemimpin sejati, pemimpin yang bertanggung jawab selalu harus memilih jalan yang sejuk. Apalagi kalau ini adalah untuk menjaga kepentingan, keutuhan bangsa yang kita cintai.

Sahabat, kita harus tetap militan, kita harus tetap patriotik. Kita harus menyiapkan diri untuk menghadapi segala kemungkinan. Kalau kita hormat bukan berarti kita menyerah. Kalau kita sopan bukan berarti kita meninggalkan perjuangan kita. Tapi kita harus selalu berusaha mencari jalan yang damai, jalan yang baik. Kita harus selalu mengutamakan persaudaraan dan persahabatan.

Kalau semua usaha kita, pada saatnya nanti tetap tidak membuahkan sebuah hasil yang sesuai dengan kepercayaan dan cita-cita kita, dan keyakinan kita akan kepentingan bangsa dan rakyat, kalau bangsa Indonesia terancam, kalau kekayaan bangsa terus dirampok oleh bangsa lain, kalau kita sudah sekuat tenaga menciptakan kesadaran nasional, sebagai patriot dan pendekar bangsa kita harus tidak ragu-ragu mengambil tindakan yang dituntut oleh keadaan.

Saya sekali lagi menganjurkan kepada sahabat saya dan pendukung saya, marilah kita terus tegar. Marilah kita memperkuat diri, marilah kita menambah barisan kita. Yakinkan lingkungan kita semuanya, bangkitkan kesadaran nasional kita. Dulu saat Bung Karno bersama para pendiri bangsa memperjuangkan kemerdekaan, mereka pun berpuluh tahun harus membangun kesadaran nasional. Sekarang pun kita harus membangun kesadaran nasional, bahwa kita saat ini sedang diancam oleh bangsa-bangsa asing yang selalu ingin Indonesia pecah, Indonesia lemah dan selalu tergantung.

Dalam pertemuan saya dengan saudara Joko Widodo tadi saya sampaikan, bahwa saya merasakan di dalam hati sanubari Joko Widodo yang paling dalam beliau adalah seorang patriot. Beliau ingin yang terbaik untuk Indonesia. Oleh karena itu saya memilih untuk membangun silaturahmi dengan beliau, sesuai dengan ajaran-ajaran budaya nenek moyang kita.

Apalagi agama Islam yang saya anut, mengajarkan saya bahwa menjalin dan memelihara silaturahmi, persahabatan dan persaudaraan jauh lebih mulia dan bermanfaat daripada meneruskan prasangka buruk, rasa curiga, apalagi terjerat dalam kebencian dan permusuhan. Ibarat api tidak bisa dipadamkan dengan api, maka kebencian dan fitnah mari kita balas dengan berbudi luhur, berjiwa kesatria. Semakin difitnah, semakin difitnah, semakin dihina, kita akan semakin tegar.

Saya minta sahabat sekalian janganlah ragu kepada pilihan-pilihan saya. Janganlah mendorong saya untuk mengambil sikap yang tidak sesuai dengan jiwa saya sebagai ksatria. Janganlah mengira saya akan surut dalam perjuangan saya. 

Saya juga telah sampaikan kepada saudara Joko Widodo bahwa perjuangan saya adalah membela UUD 1945 yang lahir 18 Agustus 1945, membela keutuhan NKRI, membangun suatu bangsa ber-Bhinneka Tunggal Ika yang aman, damai, kuat, adil, makmur dan sejahtera. Beliau pun menyatakan bahwa itu juga pegangan beliau. Saya juga katakan, kalau nanti dalam perjalanan Pemerintahan beliau ada kebijakan-kebijakan yang kurang menguntungkan rakyat, apalagi melanggar Pancasila dan UUD 1945 maka kami tidak akan ragu-ragu menyampaikan kritik kepada Pemerintah. Beliau menyambut ini dengan baik, dan beliau juga menyampaikan sewaktu-waktu akan mengundang saya untuk meminta pendapat dan masukan dari saya.

Terima kasih, saudara-saudara. Sahabatku dimanapun berada.

Wassalamualaikum.

Salam Indonesia Raya,

Prabowo Subianto, 17-10-2014"

(Arief Setyadi )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya