Melalui seminar ini, Kemenlu Jerman ingin memperoleh masukan dari para peserta seminar, terutama dari narasumber Indonesia dan Azerbaijan, tentang langkah-langkah konkrit yang perlu dilakukan. Stigma bahwa Islam menjadi ancaman terhadap stabilitas masyarakat, khususnya dikaitkan dengan arus migrasi dari negara-negara Timur Tengah ke Jerman, merupakan fakta yang berkembang di Jerman.
“Kita yang hadir di sini sangat paham bahwa stigma itu tidak benar dan perlu diluruskan. Namun kita perlu merumuskan apa yang perlu dilakukan untuk membantah dan memperbaiki kesalahpahaman masyarakat tersebut”, jelas Pendeta Dr. Nikodemus Schnabel dari Kemenlu Jerman yang bertindak selaku moderator Seminar ini.
Sejumlah rekomendasi ditawarkan oleh peserta. Di antaranya, penguatan nilai-nilai multikulturalisme di masyarakat, penguatan dialog antar dan inter agama, dialog pemimpin agama dengan pemerintah, diseminasi tentang ajaran agama yang benar melalui pendidikan formal di sekolah dan universitas. Selain itu penting bagi para pemimpin agama untuk merumuskan early warning mechanism untuk mengidentifikasi dan mengatasi gerakan-gerakan radikalisme yang mengatasnamakan agama tertentu.
Sementara itu, Dubes Oegroseno menekankan pula bahwa sebenarnya KBRI Berlin sudah mulai melakukan beberapa butir rekomendasi tersebut. Bulan Agustus nanti, kita lakukan program Interfaith Scholarship untuk mengundang para tokoh di Jerman, untuk melihat langsung praktek Islam dan pluralisme di Indonesia. Kita juga telah melakukan pendekatan ke beberapa universitas dan Institute Teologi Islam yang ada di Jerman untuk kerjasama kurikulum Islam Indonesia dan kerjasama pelatihan para Imam. Sekitar tujuh ribu WNI yang ada di Jerman juga kita dorong untuk menjadi agen diseminasi untuk toleransi antar agama dan konsep Islam Indonesia yang moderat dan damai kepada publik di Jerman.
(Arief Setyadi )