Nyorog merupakan ritus baritan sedekah bumi. Di mana, pada zaman dahulu, masyarakat sering membawakan makanan atau sesajen untuk dipersembahkan kepada Dewi Sri yang merupakan simbol kemakmuran. Persembahan berbagai sesajen itu lantas dijadikan dimaknai sebagai rasa syukur kepada sang dewi kemakmuran karena telah memberikan tanah, tanaman, dan berbagai bahan makanan kepada kehidupan manusia.
Seiring perkembangan zaman, nyorog lalu menjelma menjadi simbol penghormatan kepada orang-orang yang dituakan. Dalam artian, orang-orang yang berusia lebih muda sowan atau bersilaturahmi ke kediaman para sesepun atau mereka yang dituakan, yakni dengan cara membawakan berbagai makanan.
Konsep tradisi nyorog lanjut Yahya, dijadikan oleh orang asli Betawi sebagai bentuk kesinambungan antar ekosistem yakni, manusia, lingkungan, dan Tuhannya. Sehingga, ada siklus yang saling terkait dalam kehidupan yang melibatkan manusia, lingkungan atau alam, dan Tuhannya.
"Jadi, itu terbentuknya equilibrium. Ada perbaikan ekosistem, jadi kalau ada siklus yang rusak kita benerin, yang bolong kita tutupin. Jadi, me-reduce, reuse, recycle. Jadi ya siklus kita ini kita perbaiki," ujar Yahya.
(Rizka Diputra)