Berkaitan dengan impor beras, Bambang menjelaskan impor beras 2015 tersebut jumlahnya sedikit dan sebagian meluncur ke 2016 karena terjadi El-Nino paling parah sepanjang sejarah dan 2016 terjadi La-Nina. Bandingkan dengan impor beras 1997-1998, jumlahnya hampir 12 juta ton walau El-nino tidak lebih parah dari 2015.
"Lihat, di tahun 2016-2017 tidak ada impor beras konsumsi, tapi menir untuk kebutuhan industri dan lainnya. Impor 2018 itu hanya untuk jaga-jaga dan sampai sekarang belum dipakai, masih tersimpan di gudang," jelasnya.
Oleh karena itu, Bambang menyarankan agar Tim Riset CNBC jangan hanya lihat angka-angka saja, tapi dalami apa yang terjadi dibalik angka itu. Ingat budaya bangsa Indonesia mengonsumsi beras dan potensi sumberdaya alam sangat tersedia untuk ditanami padi.
"Jangan kawatir padi tetap menjadi program prioritas nasional dan produksi beras dijamin lebih dari cukup bahkan sekarang siap siap ekspor," pungkas Bambang.
(Fahmi Firdaus )