Masjid Lautze memiliki jam operasional sebagaimana jam kerja. Senin sampai Jumat buka dari pukul 09.00 hingga 17.00 WIB. Dengan begitu di masjid ini hanya bisa menggelar salat berjamaah Zuhur dan Ashar. Sedangkan Maghrib dan Isya tidak ada. Sedangkan tanggal merah atau hari Sabtu libur. Hari Minggunya biasanya digunakan untuk majelis taklim dalam rangka pembinaan mualaf.
"Kita masih sebatas jam kerja. Salat baru dua waktu Zuhur dan Ashar. Salat Jumat ada. Salat Idul Fitri ada. Tanggal merah kita libur. Karena jamaah kita umumnya karyawan di sekitar sini. Minggu kita buka, ada pengajian lalu kita lanjutkan habis Zuhur pembinaan untuk mualafnya, ada yang belajar salat, baca Iqro, ambil air wudhu," tuturnya.
Masjid Lautze juga intensif melakukan pembinaan bagi mualaf yang umumnya merupakan warga keturunan Tionghoa. Misalnya saja pada bulan Ramadan. Para mualaf dilatih untuk membaca surat pendek Alquran dan menjadi imam salat tarawih.
Mereka saling bergantian atau estafet mengimami salat tarawih. Dengan begitu akan tumbuh ghirah keislaman di dalam diri sang mualaf sekaligus tumbuh kepercayaan dirinya. Yusman mengungkapkan, sebagian besar pengeluaran di Masjid Lautze didanai oleh para pengurus.
Kemudian separuhnya lagi diperoleh dari para donatur atau dermawan. Sejurus dengan itu, masjid ini juga menyediakan layanan kesehatan gratis untuk masyarakat setiap hari Selasa. Layanan tersebut bekerjasama dengan Baznas.
Masjid Lautze juga menjadi simbol toleransi antarumat beragama. Pasalnya banyak mualaf di sini yang merupakan warga Tionghoa. Tak jarang juga di dalam satu keluarga warga Tionghoa tersebut berbeda keyakinan. Ada yang sudah memeluk agama Islam, dan ada pula yang masih memeluk agama asalnya.
Bahkan, dalam papan pengumuman di Masjid Lautze, tercatat sudah ada ribuan warga Tionghoa yang memeluk Islam atau diislamkan di masjid ini sejak pendiriannya hingga sekarang. Keberhasilan menjaga toleransi dan kerukunan ini kemudian mengundang warga dari negara lain untuk melihat langsung kisah ini.
"Biasanya ada tour guide yang memang bikin tujuan ke sini, yakni muslim dari Beijing ke sini sampai dua termin. Kemudian pernah datang juga mahasiswa dari Michigan, Amerika Serikat, mereka mau tahu bagaimana kita bertoleransi di sini," jelas Yusman.
"Di sini kan misalnya anaknya sudah muslim tapi orangtuanya belum. Nah bagaimana mereka bisa rukun dan damai (meski beda keyakinan). Mereka (mahasiswa dari AS) mendiskusikan itu di sini. Ada juga beberapa dari negara lain," ujarnya.
(Rizka Diputra)