Mengenang Kota Lama Batavia

Fahreza Rizky, Jurnalis
Sabtu 08 Juni 2019 08:28 WIB
Foto Ilustrasi Okezone
Share :

Kawasan Kota (kota tua) Jakarta, terbentang seluas 139 hektar. Dari Pelabuhan Sunda Kelapa, Kampung Luar Batang di utara, Petak Baru, Jembatan Baru di selatan hingga Olimo. Terdapat ratusan bangunan bersejarah di kawasan itu. Bangunan yang menjadi cagar budaya sebanyak 117 bangunan, berlokasi di Jakarta Utara dan selebihnya di Jakarta Barat. Bangunan-bangunan ini dikelola oleh berbagai pihak: pemerintah pusat, pemerintah daerah, swasta, kelompok dan perorangan.

Pada zaman Belanda, kawasan Kota merupakan kawasan yang menarik untuk dikunjungi. Kawasan tidak hanya menjadi pusat bisnis yang menggerakkan perekonomian, tetapi juga menjadi pusat pertemuan budaya antaretnis seperti Cina, Arab, Belanda, Inggris, Melayu dan sebagainya.

Kota tua akan diarahkan menjadi kawasan yang memiliki nilai ekonomi tinggi, antara lain dengan menggalakkan sektor pariwisata. Bangunan-bangunan tua yang memiliki nilai sejarah akan dipugar dengan tetap mempertahankan arsitekturnya yang bernilai tinggi. Fungsi bangunan tua ini nantinya akan diserahkan kepada masing-masing pemiliknya.

Untuk memberikan kenyamanan wisatawan menikmati kawasan ini, beberapa ruas jalan kendaraan bermotor akan ditutup, diganti menjadi koridor khusus untuk para pejalan kaki. Semangat membenahi kembali kota tua, yang sempat terkubur selama ini, sungguh membesarkan hati.

 

Kawasan ini memang layak dijadikan objek wisata sejarah. Sebab tidak hanya kaya oleh bangunan- bangunan tua yang kini dijadikan museum, tetapi juga perkampungan tua yang kental dengan nuansa Tionghoa, seperti Kampoeng Kramat Loear Batang, Kampoeng Pekojan, dan Kampoeng Pecinan yang berada di kawasan Tambora, Glodok, Jakarta Barat.

Di kampung-kampung tersebut para wisatawan dapat menikmati suasana Jakarta tempo doeloe yang dikenal sebagai kota jasa dan niaga karena dekat dengan pelabuhan laut.

Selain melihat-lihat pemukiman penduduk dengan arsitektur Cina, di akhir perjalanan para wisatawan juga dapat menikmati wisata kuliner khas Tionghoa, berupa makanan siap saji maupun bahan-bahan kebutuhan rumah tangga hingga makanan kering impor dari negara tetangga Malaysia, Singapura, Cina, dan Thailand yang sejak beberapa tahun belakangan menyerbu kawasan tersebut.

Di kawasan Glodok Pancoran, di sepanjang lorong-lorong pecinan, mudah dijumpai kios-kios penjual buah segar maupun manisan berbaur dengan kios-kios penjual masakan Cina dan Betawi seperti sup dan telur penyu, bakso, bakpau, siomay, kwetiau, ketupat sayur dan soto betawi atau bubur kembang tahu yang disiram air gula berbumbu jahe serta minuman teh dingin Oolong tea yang dijajakan di atas gerobak dorong.

(Awaludin)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya