Air Keruh dan Berlumut Jadi Harta Berharga Warga NTT saat Kemarau

Adi Rianghepat, Jurnalis
Sabtu 22 Juni 2019 09:30 WIB
Share :

KUPANG - Petani Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini mulai memasuki musim tanam kedua. Namun begitu, sejumlah petani masih galau karena kondisi alam kini tak mendukungnya secara maksimal.

Sejumlah sumber air baku termasuk curah hujan sama sekali tak memberi dukungan maksimal. Debitnya mulai turun. Semuanya karena kemarau mulai menggilitik. Nasib sejumlah lahan tadah hujan pun harus pensiun dari aktivitas tanam.

"Ya, apa mau dikata, kondisi tak memberikan kami peluang untuk bisa memanfaatkan seluruh lahan di musim tanam ini. Apalagi di lahan tadah hujan," kata seorang pemilik lahan Maria Nuban Saku dalam sebuah perbincangan.

Warga RT 019 RW 008 Desa Noelbaki, Kecamatan Kupang Tengah, Kabupaten Kupang itu mengaku, selama ini selain berharap hujan, lahan sawahnya seluas 3 hektare itu bersandar kepada suplai air dari sebuah bendungan di Tilong. Namun karena kemarau sudah mulai melanda, bendungan yang memiliki luas genangan 154,97 hektare itu tak sanggup lagi memberi suplai cukup.

"Curah hujan yang minim akibat kemarau ini telah membuat debit air di bendungan itu pun menurun dan tak lagi mampu menyuplai air untuk kebutuhan areal persawahan di 4 desa di wilayah itu," katanyanya lagi.

Alhasil, tak semua lahan bisa ditanam karena supalai air mulai berkurang. "Sejatinya Bendungan Tilong dengan kapasitas 19,07 juta kubik itu dipakai untuk mengaliri lebih dari 1.500 hektare lahan di 4 desa itu. Namun karena berkurang debitnya tentu tak lagi mampu menyuplai air secara normal untuk seluruh sawah itu," katanya.

Sejumlah lahan yang masih mendapatkan suplai air Tilong pun lanjut Maria Nuban Saku harus digilir oleh petugas agar bisa merata ke seluruh lahan. "Jika tidak diatur maka akan sulit dipakai untuk lahan lainnya. Jadi ada petugas yang bertugas membuka dan menutup alir air ke sejumlah lahan sesuai kesepakatan seluruh pemilk lahan," katanya.

Di titik ini tentunya ada harapan yang sangat dari pemerintah mencari langkah solutif untuk menyelesaikan persoalan tahunan yang berulang setiap musim kemarau tiba. "Kami tak bisa berbuat apa-apa selain bergantung dari aksi nyata pemerintah mencarikan langkah solutif menyelesaikan persoalan ini," katanya berharap.

Karena jika ini terus berulang, maka tentunya akan sangat berpengaruh kepada produktivits hasil pertanian para petani tadah hujan di daerah itu, yang berdampak kepada kondisi perekonomian warga.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya