"Merode ini untuk menghasilkan dua ekor anak sapi (pedet). Jadi, dalam satu kelahiran dilakukan melalui teknologi sinkronisasi menggunakan dosis hormon PGF2 alpha sebesar 1000 IU atau 5,0 ml dan superovulasi menggunakan hormon PMSG," katanya.
Di sisi lain, kata Fadjri, Lolitsapi juga harus mampu menjadi pusat riset dan pengembangan pakan berbahan baku lokal untuk memenuhi kebutuhan peternak di seluruh Indonesia. Pakan berbahan baku lokal ini antara lain berupa rumput gajah, jerami padi selain bahan baku lokal lain seperti kulit kopi, dedak padi, bungkil inti sawit, bungkil kopra, dan limbah tepung roti.
Sementara itu, hasil penelitian pakan yang dilakukan beberapa ahli berhasil meracik kulit kopi sebagai bahan campuran pakan lokal dengan hasil penambahan bobot yang baik. Di samping, ada juga pengembangan rumpi jagung, bungkil inti sawit, tepung gaplek, dedek padi dan konsentrat.
"Ini komposisinya sudah seimbang antara serat, mineral, dan protein. Tentu kita juga sudah membuat komposisi pakan tersebut berdasarkan persediaan dan pasokan bahan baku lokal yang tersedia," katanya.
(Risna Nur Rahayu)