"Tapi kalau dilihat untuk SMAnya saja, komposisinya mulai dari Maluku dan yang terendah di Jawa Tengah. Kenapa SMA di Jawa Tengah, Jawa Timur dan seterusnya itu rendah karena memang ada pergeseran selama beberapa tahun terakhir ini. Beberapa daerah sudah mulai masuk menyiapkan anak-anak lulusan SMP nya itu untuk masuk di SMK lebih banyak bergeser ke SMK," ujar Hamid, Selasa (2/7/2019).
Tetapi ada beberapa daerah masih tinggi persentasenya seperti Maluku itu berarti SMA nya yang tinggi SMK nya yang rendah. Namun kata Hamid, tidak ada masalah karena sama-sama wajib belajar 12 tahun. Dari lulusan SMA bisa dilihat ada yang melanjutkan ke perguruan tinggi ada yang ke dunia kerja.
"Jangan lupa Ibu dan Bapak sekalian menyiapkan anak-anak kita untuk melanjutkan ke perguruan tinggi walaupun kami tahu bahwa hanya kira-kira 60 persen lulusan SMA itu yang melanjutkan ke perguruan tinggi selebihnya Itu masuk ke dunia kerja atau tidak bekerja, itulah pentingnya mandat SMA ini memang untuk menyiapkan anak-anak kita untuk masuk ke perguruan tinggi," beber Hamid.
Perkembangan SMA dari tahun ketahun menurutnya sudah cukup banyak, ada sekira 13.700, yang menggunakan kurikulum K 13 kira-kira sudah hampir 99 persen tapi masih ada yang pakai KTSP 2006. SMA yang terakreditasi cukup banyak, sekira 44,7 persen tetapi begeri atau swasta nya itu lebih banyak swasta, tetapi muridnya itu lebih banyak negeri. Perkembangan SMA meski tidak secepat SMK tetapi lambat laun anak-anak di kelas baru di SMA ini semakin banyak setiap tahun artinya angka partisipasi nya tetap semakin tinggi.
"Makanya saya sampaikan ke teman-teman di perguruan tinggi jangan khawatir walaupun sekarang fokusnya ke SMK tetapi tetap SMAnya akan tumbuh terus," lanjut Hamid.