Dijelaskan Siti, keanekaragaman hayati juga memiliki nilai ekonomi yang diperhitungkan dalam neraca keuangan. Keanekaragaman juga menyediakan dukungan pembangunan seperti pangan, air, energi, ketahanan, dan kesehatan.
Kembangkan bioprospeksi untuk mengoptimalkan potensi keanekaragaman hayati secara berkelanjutan dalam menyokong ketahanan pangan dan kesehatan, Indonesia mengembangkan bioprospeksi. Sebagai contoh, karang spons Candidaspongia sp. yang merupakan endemik di Teluk Kupang telah diidentifikasi sebagai anti kanker.
"Pemanfaatan berkelanjutan untuk bioprospeksi di tingkat industri dirancang dan diimplementasikan yang melibatkan perusahaan swasta dan milik negara dengan prinsip-prinsip akses dan pembagian manfaat di bawah Protokol Nagoya," tutur Siti.
Sementara Menteri Iklim dan Lingkungan Norwegia Ola Elvestuen memuji sejumlah capaian Indonesia. Dia menyatakan, Indonesia telah berhasil menurunkan laju deforestasi dan degradasi hutan dan juga kebakaran hutan berkat kebijakan yang baik dan kepemimpinan yang kuat dari pemerintah.
(Khafid Mardiyansyah)