Optimisme Kementan Genjot Luas Tambah Tanam di Tengah Kemarau

Risna Nur Rahayu, Jurnalis
Senin 08 Juli 2019 18:07 WIB
Dirjen Ketahanan Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto
Share :

JAKARTA - Musim kemarau sejak sebulan terakhir menyebabkan 102.654 hektare persawahan di Pulau Jawa, Bali, dan Nusa Tengara Timur dan Barat, mengalami kekeringan. Bahkan 9.940 hektare di antaranya berstatus puso alias tidak menghasilkan.

Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan langkah mitigasi dan adaptasi sebagai solusi persoalan kekeringan tahun ini. Penangan ini diklaim berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, dan diyakini petani tetap bisa berproduksi.

"Kalau selama ini yang jadi perhatian hanya daerah kekeringan, maka tahun ini berbeda. Lahan terdampak kekeringan dan daerah yang curah hujannya masih tinggi sama-sama menjadi perhatian. Jadi tidak ada istilah lahan kosong, semua tetap tanam," ujar Dirjen Ketahanan Pangan Kementan, Sumardjo Gatot Irianto.

Sumardjo menerangkan, untuk memastikan strategi mitigasi dan adaptasi berjalan, semua kerahkan, mulai pengerahan alsintan, embung, pompa air, irigasi, bibit unggul, bekerjasama dengan Perum Jasa Tirta 1 dan 2, dan melibatkan aparat keamanan untuk mencegah adanya mafia air di tengah musim kemarau. Hari ini Kementan menggelar rapat koordinasi dengan kepala dinas pertanian, kepala dinas pengairan, dan kodim yang bertugas di wilayah terdampak kemarau dan wilayah yang berpotensi menambah luas tanam.

"Kami ingin membalikkan paradigma bahwa luas tambah tanam (LTT) menurun di musim kemarau. Kekeringan justru menjadi momentum menggenjot LTT," tegas Sumardjo.

Sumardjo memastikan musim kemarau tetap bisa bertanam padi. Dia sudah membuktikannya di persawahan Tanah Laut, yang berujung sukses dua kali panen. Sehingga dia optimis, cara itu bisa dipakai di daerah lain.

Sementara itu, Dirjen Prasarana dan Sarana Pertanian Kementan Sarwo Edhy mengatakan, pemanfaatan alsintan semaksimal mungkin sebagai langkah mitigasi maupun adaptasi. Baik itu pompa air, embung, pompa irigasi, mesin pertanian, bahkan tak menutup kemungkinan dibangun saluran baru dengan sistem pipanisasi bila ditemukan sumber air alternatif.

Terdapat 11.654 unit embung pertanian dan 4.042 unit irigasi perpompaan yang tersebar di berbagai wilayah. Kemudian ada 93.860 unit pompa air yang bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin selama kemarau.

"Berkaitan dengan pompa, tolong segera digunakan. Juga pompa-pompa yang ada di dinas, segera keluarkan stok di gudang. Kalau kurang segera hubungi kami agar kami bantu," tegas Sarwo Edhy.

Sedangkan di wilayah-wilayah yang berpotensi menambah luas tanam seperti Kalimatan, Sumatera dan Sulawesi, bisa memanfaatkan mesin-mesin pertanian yang sudah tersedia untuk mengolah sawah. Dengan begitu, proses tanam dapat segera dilakukan.

Litbang Kementan siap mendistribusikan varietas bibit unggul ke daerah yang sudah dipetakan untuk mempercepat luas tambah tanam. Bibit unggul yang dimaksud meliputi padi inpago (inbrida pagi gogo/lahan kering) dan inpara (inbrida padi lahan rawa). Kemudian kedelai dan jagung yang tahan di lahan kering.

"Jadi selama ini asumsi petani kan kalau air melimpah tanam padi. Sekarang itu yang penting cukup kebutuhan air. Kita bisa tanami kedelai atau jagung. Jadi peluang untuk bertanam tetap tinggi, selama masih ada air," urai Kepala Badan Litbang Kementan Fadjry Djufry.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya