Laporan dari Tanah Suci: Sederet Tantangan Petugas Haji Terkini

Widi Agustian, Jurnalis
Sabtu 13 Juli 2019 09:01 WIB
Ilustrasi
Share :

MADINAH - Di depan Masjid Nabawi, ibu yang sudah berusia lanjut itu menarik tas saya dengan kencang sekali dari belakang. Saya memang seorang petugas haji, yang menjadi bagian dari Tim Media Center Haji (MCH) 2019.

Apapun bagian tugas dan fungsi pokoknya, setiap petugas haji wajib memberikan pelayanan, pembinaan dan perlindungan kepada jamaah haji, termasuk tim MCH.

Dengan wajah kebingungan, si Ibu meminta tolong agar diantarkan ke hotel atau paling tidak agar dia yang terpisah dari rombongannya bisa bertemu dengan teman-temannya.

Dengan bahasa Indonesia yang terbata-bata, ibu asal Embarkasih Lombok itu mengisyaratkan agar saya membantunya mencari rombongannya.

"Ibu mau diantar ke hotel, atau mau cari rombongan ibu?" tanya saya kepada sang ibu, usai salat Dhuzur di Masjid Nabawi, Madinah, Selasa 9 Juli 2019.

"Iya. Cari-cari," jawab si Ibu singkat.

Akhirnya, kami balik badan dan menemani ibu tersebut mencari rombongannya. Dengan erat dia memegang tangan rekan saya, Fajar. Seperti takut ditinggal pergi sendirian.

"Tenang bu, kita tidak akan tinggalin ibu," saya membatin di dalam hati.

Alhamdulillah, beberapa menit berjalan, ibu tersebut berhasil menemukan rombongannya yang sempat terpisah. Dengan sumringah, sembari mengucapkan terima kasih, dengan wajah berbinar dia pergi meninggalkan kami.

Tidak berhenti sampai di situ, begitu berjalan. Kami langsung dihampiri lagi oleh jamaah yang kembali terpisah dari rombongannya.

Dua orang ibu asal embarkasih Surabaya tersebut terlupa jalan pulang ke hotel. Dia pun terpisah dari rombongan yang tadi bareng-bareng jalan ke masjid.

"Lupa saya, tadi lewat gerbang yang mana ya," tanya si ibu.

Harap maklum, Masjid Nabawi memang luas biasa luasnya. Beda dengan kondisi masjid di Tanah Air. Gerbang pintu masuknya ada sekitar 40. Dan semua bentuknya mirip-mirip.

Jadi, kalau memang tidak mengingat masuk dari pintu ke berapa, pasti akan lupa bagaimana keluarnya. Urusan si Ibu itu belum selesai, datang lagi dua ibu asal Embarkasi Solo. Alhasil, saya dan rekan saya berpisah. Dia menangani jamaah asal Embarkasi Surabaya tersebut. Saya membantu jamaah asal Solo tersebut.

Ibu asal Solo tersebut terlupa jalan kembali ke hotel. Dia menunjuk hotel Diyar Al Salam Fidhi yang berada di sektor 3. Tetapi ternyata salah. "Jalannya mirip semua ya. Saya pikir tadi sudah benar," kata salah satu dari Ibu tersebut.

Setelah saya telusuri, ternyata hotel yang dia tempati adalah Diyar Taiba yang berada di sektor 5. "Waduh bu, jaraknya sampai satu setengah kilometer lagi dari sini," kata saya kepada si Ibu dengan memperlihatkan peta online di handphone saya.

Jalan sejauh itu, di tengah cuaca panas yang menyengat sungguh benar-benar menjadi tantangan, apalagi untuk kedua ibu tersebut. Saat itu, suhu mencapai sekitar 42 derajat celcius.

Sambil berjalan, saya mengajak ngobrol ngalor-ngidul. Saya pun menawarkan minum kepada ibu tersebut. Air di botol minum saya habis diteguknya, bahkan air di botol semprot saya pun tinggal sedikit diminumnya.

Tapi Alhamdulillah, pada akhirnya ketemu juga posisi hotel si ibu. Posisinya ada tepat di depan Baqi Al Ghardad yang merupakan lokasi pemakaman umum di Madinah. "Terima kasih, mas," kata dia sambil masuk ke hotel.

Lalu saya? Pelan-pelan saya berjalan, masuk kembali ke areal Masjid Nabawi melalui pintu 37 lalu menuju ke pintu 21, lokasi pos khusus petugas haji berada.

Begitu kira-kira sedikit pengalaman saya di bada Dzuhur tersebut. Satu petugas haji, menghandle lebih dari dua jamaah yang kesulitan. Itu repot sekali.

"Kita semua harus mewakafkan diri kita di Tanah Suci. Kita mesti ikhlas melayani jamaah haji. Itu ibadah kita," itu pernyataan Direktur Bina Haji Kementerian Agama Khoirizi Dasir yang selalu terngiang di batin saya, dan saya pikir terngiang juga di batin semua para petugas haji.

Tantangan Musim Haji 2019


Musim haji 2019 memang menjadi tantangan tersendiri. Bagaimana tidak, sebanyak 63% jamaah haji merupakan lanjut usia. Belum lagi ditambah dengan jamaah risiko tinggi (risti).

Khoirizi pernah memperingatkan para petugas haji, jika musim haji 2019 ini tidaklah mudah. "Lebih dari 60% jamaah haji kita merupakan lansia. Ini bukan beban. Ini adalah tantangan bagi petugas haji," begitu dia menyemangati petugas haji gelombang pertama, jelang keberangkatan ke Tanah Suci, Kamis 3 Juli 2019.

Belum lagi adanya tambahan kuota haji yang diberikan oleh Kerajaan Arab Saudi untuk Indonesia sebanyak 10.000 jamaah menjadi 231.000 jamaah pada musim haji 2019.

Penambahan merubah semuanya. Bahkan rencana perjalanan haji pun ikut berubah. Jamaah haji kloter pertama yang harus berangkat tanggal 7 Juli pun maju menjadi 6 Juli.

Tidak hanya itu, perubahan-perubahan pun otomatis terjadi di semua lini, baik itu transportasi, akomodasi hingga catering. Dan petugas haji pun harus bisa beradaptasi dengan itu semua.

Tantangan-tantangan tersebut harus bisa dijawab petugas haji dengan baik. Tahun ini, jumlah petugas memang bertambah menjadi 4.100 orang dari sebelumnya 3.500 orang.

Setiap tahapan dalam penyelenggaraan haji merupakan sebuah tantangan tersendiri, mulai dari manasik haji agar dipahami jamaah haji hingga sekelumit masalah di Tanah Suci.

Begitu kira-kira tantangan petugas haji di Tanah Suci. Bismillah, semoga bisa melayani dengan baik dan menjadi ibadah untuk para petugas semuanya.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya