Laporan dari Tanah Suci: Bahasa Jadi Problem Pelaksanaan Haji

Widi Agustian, Jurnalis
Sabtu 13 Juli 2019 09:31 WIB
Ilustrasi
Share :

MADINAH - Jamaah haji Indonesia merupakan yang terbanyak di dunia. Tahun ini mencapai 231.000 jamaah haji. Belum lagi dengan jamaah umrah yang mencapai jutaan orang tiap tahun.

Hal itu membuat Arab Saudi, baik itu masyarakat maupun aparat petugasnya, tampak familiar dengan jamaah Indonesia. Pasalnya, jamaah haji asal Indonesia memang terkenal dengan kesopanan, santun, bersih dan ramah.

Selama lebih dari sepekan Okezone berada di Tanah Suci Madinah, Arab Saudi ada sejumlah aspek-aspek di Arab Saudi yang terasa "Indonesia". Aspek kebudayaan, khususnya aspek "keramahan" hingga bahasa Indonesia mulai terasa.

Bahkan, terkadang para orang Arab ini lebih menguasai bahasa Indonesia ketimbang orang Indonesia sendiri.

Sekadar mengingatkan, sebanyak 63% jamaah haji Indonesia merupakan lanjut usia. Dan banyak dari jamaah ini merupakan warga yang belum pernah keluar kota, dan bahkan mungkin belum pernah keluar dari desanya.

Soal bahasa, tentu saja mereka hanya menggunakan bahasa Ibu, bahasa daerah mereka. Sebut saja jamaah yang berasal dari Embarkasih Surabaya, khususnya dari daerah Pamekasan dan jamaah yang berasal dari Embarkasih Lombok.

Umumnya mereka tidak terlalu mengerti bahasa Indonesia. Mereka hanya mengerti bahasa asalnya. Banyak rekan juga yang bertanya, jadi komunikasi dengan jamaah itu dengan bahasa apa? "Tenang, kita pakai bahasa batin," sahut saya biasanya.

Berbeda pengalaman dengan warga Arab Saudi. Di pelataran pertokoan, jamaah haji pasti tidak heran dengan sapaan pemilik toko, yang umumnya warga Saudi, untuk menjajakan barang dagangannya seramah mungkin.

"Kamu sini saja. Tenang, saya kasih kamu murah. Sepuluh riyal, dua," kata dia dengan tangan kiri menunjuk entah barang apa, dan tangan kanan memegang tangan saya.

Tidak hanya itu. Di Raudhah, yang merupakan titik tersuci di Masjidil Nabawi, Madinah, para petugas yang berada di lokasi tersebut juga tampak "Indonesia'.

Kesan garang petugas Arab Saudi, yang banyak diceritakan orang, terasa lumer. Bada salat Subuh, biasanya jamaah yang selesai salat diminta mengundurkan diri dari areal Raudhah.

Terhadap jamaah dari negara lain, terlihat gesture petugas tersebut, tidak begitu ramah. Sambil mendorong, tatapan matanya juga kencang alias melotot.

Beda saat dia berhadapan dengan jamaah Indonesia. "Ke sana, ke sana. Tidak di sini," kata dia ramah sambil merangkul salah satu jamaah.

Di bandara, petugas imigasi pun mencoba ramah dengan mencoba berbahasa Indonesia. Saat melalui pos imigrasi di Bandara Internasional King Abdul Aziz di Jeddah, salah seorang petugas mencoba berbicara bahasa Indonesia.

"Canon, canon," kata dia, meminta saya melakukan print jari kanan di alatnya. Tapi saya tidak mengerti.

"You can speak English?" tanya dia. "Little bit," jawab saya.

"Do you this is, left. Its 'kiri'," kata dia sambil menunjukkan tangan kirinya. "Yes," jawab saya.

"So do you know this is, right. Canon. What you call it?" tanya dia sambil menunjukan tangan kanannya.

"Oh, kanan. Itu kanan," ucap saya sambil tertawa.

"Yes, kanan. Thats i mean," tambah dia.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya