“Mengemis untuk jalan-jalan, di mana ada warga lokal yang mengemis untuk bertahan hidup, adalah perbuatan yang sangat tidak terpuji terhadap negara dan warganya,” kata Fabian Kronig, warga negara Swiss yang sejak delapan tahun bekerja di Bali menjadi manajer di Hideout-Hostel, Canggu, menuangkan keluh kesahnya, seperti dikutip dari portal berita Swiss watson.ch.
Fenomena Begpacker sendiri dipercaya mulai muncul di Singapura, lalu muncul di negara ASEAN lain seerti Thailand, Laos bahkan Malaysia. Begpacker umumnya tak membawa uang untuk mendanai jalan-jalannya, mereka bahkan sering mengemis dan meminta uang dengan cara mengamen berbekal pengeras suara.
Selain itu, para Begpacker juga sering memakai fasilitas crorw-funding atau meminta sumbangan secara online kepada netizen untuk mendanai perjalanan mereka. Para Begpacker online ini biasanya membuat video profil untuk mearik simpati netizen.
(Khafid Mardiyansyah)