Dia menjelaskan, meski tidak bisa memprediksi datangnya gempa dan tsunami namun sepanjang Pantai Selatan Jawa dietahui berada di kawasan ring of fire. Daerah-daerah itu rawan terjadi gempa bumi karena tumbukan lempeng samudra dan lempeng benua.
“Kalau potensi bencana geologi itu memang di kawasan pantai selatan, karena ring of fire kita itu di selatan-selatan. Itu memang zona tumbukan, kemudian bergerak naik ke arah bagian Sulawesi, ada yang naik ke Maluku, daerah rawan terjadinya gempa, karena jalur tumbukan, jalur pergerakan lempeng antara lempeng benua dan lempeng samudra,” terangnya.
“Nah kalau di bagian utara Pulau Jawa, Biasanya kalau kuat (gempa magnitude besar) sekali baru kita terasa, tapi biasanya akan lebih stabil di bagian utara karena memang tidak tidak berada di jalur zona tumbukan antara dua lempeng tersebut,” lugas dia.
Dia juga mengatakan, jika terjadi gempa di Pantai Selatan Pulau Jawa akan diikuti oleh gempa-gempa lain. “Tapi kita kan nggak tahu nanti di mana gempa itu akan terjadi. Nah kita membuat kita waspada saja,” bebernya..
“Misalnya di Jogja kemarin kalau di Jogja kalau sudah bergerak dan tempat yang lain itu memang zona aktif. Kemudian akan bergerak ke bagian timur ke Banyuwangi, Surabaya kemudian Bali. Itu karena apa? Karena mereka mencari kesetimbangan, makanya bergerak patah atau tumbukan. Pastinya dia akan mencari kesetimbangan supaya stabil. Tapi kan kita nggak tahu di mana next gempa akan terjadi,” pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)