Agustinus melanjutkan, sekarang pihaknya menerapkan proses belajar yang disesuaikan dengan kebutuhan industri di era revolusi 4.0. "Misalnya, sekarang ada pemodelan, penggunaan sofware komputer, animasi, digital, kemudian ada praktek industri digital. Kemudian itu semua dikombinasikan atau ditambahkan dengan wasawasan terkait entrepreneurship atau kewirausahaan di dunia digital," paparnya.
Sementara itu Sekretaris Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah III, Samsuri, yang hadir sebagai pembicara seminar di Untar mengatakan, dalam era revolusi 4.0 tenaga manusia akan dikurangi, lalu digantikan dengan tenaga robot. Oleh karena itu mahasiswa Untar harus punya kemampuan dan keterampilan yang mumpuni agar bisa diserap oleh dunia kerja.
"Dalam revolusi 4.0, banyak pekerjaan manusia digantikan robot. Jadi kita itu harus jadi luluasan yang memiliki kemampuan dan keterampilan yang mumpuni sehingga masuk ke predikat yang dibutuhkan nanti," ucapnya.
Samsuri juga mengingatkan bahwa pada 2030 Indonesia akan mengalami bonus demografi, yaitu kondisi di mana sebagian besar penduduk Indonesia merupakan masyarakat berusia produktif. Bonus demografi itu bisa menguntungkan jika generasi mudanya merupakan luluasan berkualitas, namun jika sebaliknya malah akan jadi merugikan diri sendiri dan negara pada umumnya. (Adv)
(Abu Sahma Pane)