"Perkawinan Tak Suci" Jadi Biang Kerok Radikalisme di Indonesia

Fahreza Rizky, Jurnalis
Jum'at 16 Agustus 2019 19:54 WIB
Foto Ilustrasi shutterstock
Share :

JAKARTA - Cendikiawan Muslim Prof Amin Abdullah mengatakan, bibit radikalisme lahir dari perkawilan tak suci antara demokrasi yang kebablasan dengan gerakan transnasional. Tak ayal radikalisme ini pada akhirnya kerap memainkan sentimen identitas.

Pernyataan itu dikatakan Alwi dalam Focus Group Discussion Scenario Planning: Indonesia yang digelar Gerakan Suluh Kebangsaan (GSK) di Hotel JS Luwansa, Jalan Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan.

"Memang pasca 1998 itu, memang terjadi perubahan besar di Indonesia. Jadi saya melihat setelah 10 tahun dari 1998-2008 kemudian ada perkawinan yang saya sebut perkawinan yang tidak suci antara keran kebebasan yang kebablasan, demokrasi yang kebablasan, kawin dengan gerakan transnasionalisme. Itu yang jadikan kita seperti ini," kata Amin, Jumat (16/8/2019).

"Jadi ada perkawianan yang tidak suci antara keran kebebasan yang kebablasan itu tadi kawin dengan Arab Spring, Alqaeda, Boko Haram, itu semua menyatu di sini. Itu makanya kami Suluh Kebangsaan ingin antisipasi itu," jelas dia.

 

Namun ia tak tahu apakah hasil perkawinan tak suci ini akan langgeng atau tidak. Namun yang pasti tokoh bangsa akan berupaya melakukan antisipasi agar radikalisme tak menguasai Tanah Air.

"Kalau tidak diantisipasi, Indonesia yang besar itu bisa porak poranda kalau kita tidak hati-hati di situ. Maka civil society-beyond Muhammadiyah, NU, dan semuanya, seperti Suluh Kebangsaan ini-memang harus mulai berpikir dan mestinya bukan hanya Suluh Bangsa tapi banyak civil society lain yang memikirkan itu. Karena kedua perkawianan itu bahaya sekali kalo kita gak hati-hati," pungkas Amin.

(Awaludin)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya