Sementara itu, Co-Founder Rumah Bako, Robby W. Riyodi, menegaskan bahwa kegiatan donor darah ini menjadi bagian dari menyadarkan kembali pada niatnya mendirikan Rumah Bako sebagai ruang belajar masyarakat.
"Semua kegiatan dan program didesain sedekat mungkin dengam masyarakat. Masyarakat yang menjadi pelaku dan masyarakat yang merasakan manfaat. Bagi kami literasi itu memudahkan masyarakat dalam menghadapi berbagai situasi dan persoalan," jelasnya.
Di sisi lain, Nilam sari, salah seorang pendonor menyatakan bahwa ia sangat merasakan manfaat dari program donor Rumah Bako ini.
"Donor memang sudah jadi rutinitas saya. Biasanya saya harus pergi ke lokasi donor yang jauh dari kampung. Tapi sekarang tidak, berkat kegitan Rumah Bako ini tidak perlu lagi jauh-jauh. Sudah ada di kampuang saya. Selain itu juga asyik donor di taman bacaan. Kita bisa baca-baca buku di sela-sela kegiatan," ujarnya.
(Khafid Mardiyansyah)