Menteri Amran Menindak Mafia Pangan dan Bekerja Tanpa Batas

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Senin 26 Agustus 2019 16:16 WIB
pengamat politik Hendri Satrio
Share :

JAKARTA - Selama menjadi Menteri Pertanian (Mentan) masa pemerintahan Jokowi-JK kurun waktu 2014-2019, kerja keras dan kinerja Andi Amran Sulaiman mendapat perhatian dari pengamat yang berkaliber. Menteri asal Bone Sulawesi Selatan ini dinilai bekerja tanpa batas atau tidak kenal waktu dan lelah bak menteri yang baru menjabat.

Pengamat Politik, Hendri Satrio menilai, Mentan Amran merupakan sosok menteri yang selama memimpin Kementerian Pertanian (Kementan) kurun waktu hampir lima tahun bekerja tanpa batas. Mentan Amran memiliki program terobosan dan strategis dalam mempercepat pencapaian swasembada pangan, tindak tegas mafia pangan dan menciptakan pemerintahan yang bersih.

"Mentan Amran dihari libur tetap bekerja dan selalu di lapangan. Sabtu Minggu bekerja sampai malam, rapat maraton bersama Eselon I, dinas pertanian dan para mitra. Artinya, kalaupun masa jabatan tinggal satu bulan lebih, tidak pernah mengenal waktu," tegas Hendri di Jakarta, Senin (26/8/2019).

Hendri menjelaskan kebijakan dan program yang dijalankan kurun waktu hampir 5 tahun ini selalu di totok nadi masalah pangan yang dihadapi negara. Misalnya, dalam masalah harga pangan selalu ini tidak pernah tuntas, Kementan tidak hanya mengambil kebijakan operasi pasar, tapi yang dilakukan adalah menumpas mafia pangan yang menjadi biang kerok gejolak harga.

"Ya tidak heran, Mentan Amran pun pakai baju kaos atau baju santai memimpin rapat sampai larut malam. Rapat sebelumnya juga seperti itu. Padahal ini kan masa jabatanya hanya menghitung hari. Tapi beliau tetap optimal bekerja, memacu pertanian agar terus maju," jelasnya.

Hendri menambahkan dari kacamata politik, Mentan Amran Sulaiman menjalankan kebijakan pembangunan pertanian yang sangat memperhatikan kesejahteraan petani dan menggenjot hasil pertanian secara signifikan, sehingga pertanian Indonesia saat ini disegani dunia karena berhasil menyetop impor komoditas strategis yang selama ini berlangganan impor seperti besar, jagung, cabai, telur dan bawang merah.

"Alhasil, dengan mengacu hasil riset yang dilakukan Bappenas menyimpulkan belanja barang pada periode 2016-2017, mendorong pertumbuhan ekonomi hingga 0,08 persen. Sementara belanja modal hanya mendorong 0,03 persen. Anggaran yang sudah dikeluarkan oleh Kementan memiliki peran lebih terhadap peningkatan pertumbuhan ekonomi. Setiap peningkatan 1 persen belanja alsintan, terjadi peningkatan subsektor pertanian, peternakan dan jasa pertanian di daerah sebesar 0,33 persen," terangnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya