Menurut Hendri, indikator keberhasilan lainnya juga dapat dilihat pada peningkatan ekspor, PDB pertanian, penurunan angka inflasi dan kemiskinan di pedesaan. Menurut data BPS, rata-rata kenaikan ekspor pertanian per tahun sebesar 2,4 juta ton dan tercatat sejak pemerintahan Jokowi-JK, ekspor naik 9 juta ton. Tahun 2013, total ekspor hanya 33 juta ton, namun di tahun 2018 mencatat nilai tertinggi yakni 42,5 juta ton.
"Yang tidak kalah hebat, terjadinya penurunan inflasi bahan makanan yang sangat signifikan dari 10,57 persen tahu 2014 menjadi 1,69 persen pada tahun 2018," bebernya.
"Kinerja pertanian di tangan Mentan Amran pun berhasil mengangkat nilai PDB Pertanian. Dari target PDB 3,5 persen, pertanian mampu menembus 3,7 persen. Begitu pun penduduk miskin di pedesaan menurun dari 14,17 % pada tahun 2014 menjadi 13,2 % pada tahun 2018," pintanya.
Oleh karena itu, Hendri menegaskan rentetan keberhasilan ini bukan dicapai begitu saja, namun karena Mentan Amran memiliki prinsip kerja yang mulia, berpegang teduh pada hadist atau sabda Rasululllah. Yakni 'sekiranya hari kiamat hendak terjadi, sedangkan di tangan salah seorang di antara kalian ada bibit kurma maka apabila dia mampu menanamnya sebelum terjadinya kiamat maka hendaklah dia menanamnya'.
"Nah ini karena Amran sosok menteri yang bekerja tidak kenal waktu. Hingga akhir masa jabatanya pun, semakin kencang turun ke lapangan dan mimpim rapat sampai-sampai di hari libur. Secara politik, ini cara kerja yang penuh tanggung jawab demi kemajuan negara," tandasnya.(ADV)
(Fahmi Firdaus )