SYDNEY - Aktivis dan pengacara HAM Veronica Koman menyatakan dirinya akan terus menyuarakan masalah Papua, dan meminta pihak keluarganya untuk bersabar karena persoalan yang dialami rakyat di sana jauh lebih besar.
The Guardian sebelumnya melaporkan bahwa Veronica saat ini berada di Sydney, Australia.
Meski kini dia terpaksa meninggalkan Indonesia, namun Veronica dengan tegas menyatakan tidak akan berhenti.
"Keluarga saya diintimidasi, orangtua saya sudah dua kali menangis meminta saya berhenti," kata Vero saat diwawancara oleh media Australia, ABC News.
"Tapi saya sampaikan ke mereka untuk bersabar karena masalah ini jauh lebih besar dari kita," ujarnya.
Baca juga: Cerita Warga Blitar Tentang Kondisi Mengerikan saat Kerusuhan di Wamena Papua
Baca juga: Kerugian Akibat Kerusuhan di Jayapura Capai Rp97 Miliar
Vero kini diburu oleh pihak Kepolisian RI setelah sebelumnya dijadikan tersangka, sehingga selama beberapa waktu tampaknya mengambil sikap low profile, khususnya terhadap media.
"Saya tidak akan berhenti," ujarnya.
Sebelum berbicara dengan presenter ABC Beverley O'Connor, Veronica juga sudah melakukan interview dengan stasiun televisi Australia lainnya, yaitu SBS TV.
Ditanya mengenai keputusannya untuk akhirnya bersedia diwawancara, Veronica menyatakan hal itu didorong oleh situasi di Papua yang semakin memburuk.
"Sebab saya kira saat ini kita menyaksikan periode paling suram di Papua dalam 20 tahun terakhir. Kini ada tindakan keras yang belum pernah terjadi sebelumnya di sana," jelasnya.
“I am not stopping”, Indonesian human rights activist @VeronicaKoman says about reporting on the West Papua crisis, “I tell my parents to please be patient because this is bigger than us” @Bevvo14 #TheWorld pic.twitter.com/E6RYKOU5Tw
— ABC News (@abcnews) October 3, 2019
Apakah Verorinca tidak khawatir dengan keselamatan dirinya sendiri saat ini?
"Tentu saja saya khawatir dengan diri saya dan keluarga saya di Indonesia. Tapi hal itu tidak ada apa-apanya jika dibandingkan dengan apa yang dialami rakyat Papua," ujarnya.
Menanggapi status tersangka yang dikenakan terhadap dirinya dengan tuduhan sebagai provokator, Veronica melihat hal itu tak lebih dari upaya Pemerintah RI untuk menghancurkan kredibilitasnya.
"Sebab mereka tidak bisa membantah data serta rekaman video dan foto yang saya punya sehingga mereka hanya bisa menyerang kredibilitas saya," kata Veronica.