Meski divonis lumpuh dan buta, Prada Gilang tidak merasa terpuruk dengan kondisinya. Dia tetap optimistis dengan menjalani berbagai pengobatan hingga akhirnya dapat berjalan kembali. Kendati demikian, syaraf kedua matanya dinyatakan sudah pucat dan tidak dapat disembuhkan.
“Saraf mata pak Gilang mengalami kerusakan atau dalam bahasa kedokteran disebut atropi papil. Ini kondisi sulit dan bisa dikatakan akhir dari kesehatan mata. Pengobatannya sudah tidak ada lagi karena bagian akson saraf mata tidak lagi dapat beregenerasi,” kata Kasubdep Mata RS Putri Hijau Medan Mayor CKM dr Yudhi Dorandes, saat menyampaikan vonis penyakit Prada Gilang.
Pada 2018, Prada Gilang mengikuti kursus bektram di Pusrehab Kemhan Jakarta. Dan di tahun 2019, dia dipindahtugaskan dari Batalyon Arhanud 11 Wirabuanayudha ke Babinminvetcaddam I BB. Meski telah dipindahtugaskan, Prada gilang tidak patah semangat dan bertekad untuk tetap mengharumkan nama bangsa.
Dia pun bergabung dalam National Paralympic Committe Kota Medan dengan cabang olahraga lempar lembing dan tolak peluru. Berbekal semangat dan dukungan dari kedua orangtua, Prada gilang berhasil meraih juara II F11 tolak peluru putra dan juara II F11 lempar lembing putra pada Pekan Paralymlic Provinsi Sumut pada Mei 2019. Dan di saat ini, Prada Gilang menjalani training center untuk persiapan seleksi menuju Peparnas Tahun 2020 mewakili Provinsi Sumut.
(Rizka Diputra)