JAKARTA – Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus memperbaiki sistem transpotrasi di ibukota. Di antaranya dengan mengintegrasikan moda transportasi yang ada melalui sistem Jak Lingko, dan melakukan peremajaan armada.
Jak Lingko merupakan sistem transportasi terintegrasi baik rute, prasarana, maupun pembayarannya. Integrasi ini tidak hanya melibatkan antar bus besar, medium, serta kecil dan TransJakarta, tetapi juga transportasi berbasis rel yang dimiliki Pemerintah Provinsi DKI Jakarta seperti MRT dan LRT. Sistem Jak Lingko juga mengintegrasikan prasarana dengan PT. KCI dan Railink yang dimiliki PT. KAI. Contoh integrasi ini dapat dilihat di kawasan Dukuh Atas, di mana empat moda transportasi umum terkoneksi secara nyaman melalui pedestrianisasi Jalan Kendal dan trotoar yang lebar.
Nama Jak Lingko diambil dari dua kata, yaitu Jak yang berarti Jakarta dan Lingko yang bermakna jejaring atau integrasi (diambil dari sistem persawahan tanah adat di Manggarai, Nusa Tenggara Timur). Nama ini dipilih karena mencerminkan makna sistem transportasi terintegrasi yang sedang dibangun di Ibu Kota.
Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan optimis sistem transportasi yang terintegrasi dapat meningkatkan animo masyarakat dalam menggunakan angkutan umum. Dengan begitu, penggunaan mobil pribadi menjadi berkurang sehingga kemacetan teratasi dan kualitas udara ibukota membaik.
Untuk menyukseskan Program Jak Lingko, pihaknya menambah jumlah armada dan memperbanyak rute lintasan. “Armada ditambah, rute ditambah, dan tersambungkan satu dengan yang lainnya. Dan dengan trasportasi umum yang terintegasi, bisa berangkat ke manas saja, dan pergi kemana saja dengan satu kartu,” terang Anies dalam sebuah wawancara di Jakarta.
Menurut Anies, peran masyarakat dalam menciptakan suasana Ibukota yang lebih baik juga sangat penting. Program yang dirancang berpotensi minim hasil, bila masyarakat malas berpartisipasi.
“Selama masyarakat masih memilih menggunakan kendaraan pribadi, jalanan macet dan polusi udara sulit diatasi,” tegasnya Anies.
Sistem pembayaran cashless dengan kartu Jak Lingko bertarif maksimal Rp5.000 per tiga jam, khusus untuk transportasi berbasis jalan. Misal, Anda naik bus TransJakarta pukul 07.00, lalu naik angkot yang sudah berlogo Jak Lingko pukul 08.30, dan kembali naik bus TransJakarta pukul 10.00, maka saldo dalam kartu Jak Lingko Anda akan berkurang Rp5.000.
Kartu Jak Lingko seharga Rp30.000 yang bersaldo Rp10.000 dapat diisi ulang melalui ATM Bank DKI dan BNI. Selain itu, pembelian kartu Jak Lingko dapat dilakukan di halte busway dan angkutan umum yang sudah berlogo Jak Lingko.
Pemprov DKI Jakarta berharap, dengan adanya sistem transportasi yang terintegrasi ini, masyarakat dapat berkolaborasi dengan pemda dalam mengurangi tingkat pencemaran udara dan kemacetan dengan ikut bersama menggunakan transportasi publik.
Pemprov DKI memasang target penumpang angkutan umum di Jakarta mencapai 260 juta orang pada 2019, bertambah dari 145 juta penumpang pada 2017 dan 190 juta orang pada 2018. Anda tersebut pun menjadi bukti bahwa setiap tahun sejak 2017, terjadi kenaikan jumlah pengguna angkutan umum di Jakarta.
Sementara itu, Pemprov DKI Jakarta juga menargetkan 10.047 armada armada kecil, sedang, serta besar yang terintegrasi Jak Lingko akan segera diremajakan tahun depan. “Untuk implementasi pembatasan usia kendaraan angkutan umum sepuluh tahun akan direalisasikan maksimal pada 2020," ujar Kepala Dinas Perhubungan Provinsi DKI Jakarta, Syafrin Liputo. (cm)
(Risna Nur Rahayu)