PERKEMBANGAN teknologi telah menghadirkan berbagai jenis gadget yang dibutuhkan masyarakat. Di kalangan anak-anak, gadget yang berhubungan dengan game mungkin menjadi yang paling favorit. Mulai dari game dengan konsol hingga smartphone, menyediakan kebutuhan anak-anak terhadap game.
Meningkatnya kegemaran terhadap game khususnya e-sport, kerap membuat anak-anak tak bisa lepas dari gadget. Terlebih berbagai aplikasi game online kini sudah bisa didownload secara mudah di smartphone. Alhasil, pemakaian gadget berdampak buruk terhadap sebagian anak yang tak mendapat kontrol orangtua. Sang anak pun mengalami kecanduan yang berujung pada gangguan mental.
Suhartono, pendiri Yayasan Jamrud Biru yang terletak di Kampung Babakan Jalan Asem Sari II RT 03 RW 04, Kelurahan Mustikasari, Mustikajaya, Kota Bekasi, Jawa Barat mengatakan sudah ada 4 pasien pecandu game online yang dirawat di yayasan rehabilitasi orang dengan gangguan jiwa (ODGJ) itu.
Salah satunya adalah Wawan Game yang sempat viral di media sosial karena tangannya yang selalu bergerak seperti sedang bermain game. Sementara 3 pasien lainnya tercatat sebagai pelajar.
"Kalau yang diterima di Jamrud Biru sudah 4 ya. Yang 3 sudah kembali pulang, sehat, tinggal 1. Cuma sudah ada 3 lagi yang konsultasi, rencana akan dibawa ke yayasan. Ini 3 dari berbagai daerah juga, kita tinggal nunggu kedatangannya. Mereka juga sama karena game online dan gadget," kata pria yang akrab disapa Hartono itu saat diwawancarai Okezone, Jum'at (25/10/2019).
Hartono mengaku tidak menggunakan obat-obatan medis dalam proses penyembuhan pasien. Ia lebih menerapkan pendekatan persuasif dan spiritual untuk memulihkan kembali kondisi kejiwaan pasien.
"Jadi yang terpenting bagaimana memberikan pengobatan yang nyaman. Pertama itu memberikan relaksasi. Kedua pendekatan persuasif. Ketiga kita beri masukan kepada pasien dengan mengarah kepada keagamaan. Jadi gagdetnya kita ganti dengan buku Yasin, Qur'an dan buku-buku agama. Disitu akan terlihat tatapan pasien, oh ya ini lebih penting sebenarnya dari gadget. Jadi kita ajarkan ke arah agama yang lebih penting. Dari 3 poin itu, pasien berangsur membaik," paparnya.
Dari keseluruhan pasien pecandu gadget, Hartono menemukan beberapa kesamaan yang menjadi ciri, seperti memiliki emosi tinggi, serta kecenderungan berhalusinasi.
"Itu yang unik disitu, terlalu kelihatan banget dia menjadi seorang yang di dalam gadget, atau seorang game online atau bagaimana gitu. Dan mempunyai harapan-harapan yang semu yang sebenarnya tidak ada, cuma dia berharap seperti itu. Itulah yang kita buang pelan-pelan," akunya.