Atas dasar itu, Azis mengingatkan, Sumpah Pemuda diperingati bukan sebagai ajang seremoni. Tapi, sebagai pengingat bahwa nilai-nilainya harus terus dikontekstualisasi.
"Harapannya, apa yang ada dan sudah dicontohkan oleh para elit politik tersebut, bisa mengalir kebawah agar kita siap menghadapi tantangan besar ke depan," terangnya.
Azis menerangkan, berkaca pada Sumpah Pemuda 91 tahun lalu, bagaimana para pendiri bangsa ini sibuk mencari titik temu dan merumuskan persatuan di atas segala perbedaan dan ratusan alasan untuk bermusuhan.
"Sepatutnya, bila kita belum mampu merumuskan Sumpah Pemuda, setidaknya berlajarlah memaknainya, atau sekurang-kurangnya berusahalah menerimanya. Wallahualam bi sawab," tutur mantan Ketua Komisi III DPR itu. (ADV)
(Risna Nur Rahayu)