PEKANBARU – Belakangan ini harimau Sumatera di Riau sering menampakkan diri. Kapolda Riau, Irjen Agung Setya Imam Effendi, meminta warga tidak mengganggu harimau.
Terakhir, harimau terlihat warga di daerah Tapung Kabupaten Kampar. Seorang siswa melihat si raja hutan melintas saat pergi sekolah di Desa Karya Indah, Kecamatan Tapung yang berbatasan dengan Kota Pekanbaru.
"Hal paling penting adalah tidak mengganggu harimau," kata Irjen Agung Setya Imam Effendi kepada Okezone, Kamis (12/12/2019).
Kapolda menegaskan, harimau tidak akan mengganggu manusia jika habitatnya tidak diusik. Manusia diminta untuk tidak memusuhi harimau, apalagi mengambil langkah yang melanggar hukum.
"Jika melihat harimau, warga diminta untuk melaporkan pihak berwenang yakni Balai Besar Konservasi Sumber Daya Alam (BBKSDA). Nantinya aparat berwenanglah yang akan menindaklanjutinya," ucap Agung.
"Rasa takut dapat menumbuhkan permusuhan antara manusia dengan harimau. Jika melihat harimau dilaporkan saja ke BBKSDA biar bisa dilakukan mitigasi," ucapnya.
Sebelumnya, petugas menangkap tiga pemburu harimau Sumatera di Kabupaten Pelalawan. Para pemburu ini mengaku sudah menghabisi dua harimau pada Juni dan November 2019. Dalam perut harimau yang dibunuh ditemukan empat janin.
Sebelumnya, harimau pada Maret 2019 seekor gajah harimau sumatera ditemukan terjerat di kawasan Restorasi Ekosistem Riau (RER) yang dikelola PT Gemilang Cipta Nusantara (GCN) di Desa Sangar, Kecamatan Teluk Meranti, Kabupaten Pelalawan. Perusahaan ini mengantongi izin restorasi ekosistem dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) di kawasan Semenanjung Kampar, Kabupaten Pelalawan, sejak 2012 dengan luas 20.265 hektare. Banyak aktivis lingkungan mengecam pihak perusahaan yang dianggap tidak peduli dengan habitat harimau Sumatera yang hampir punah itu.
Baca Juga : Alat Pendeteksi 2 Harimau Sumatera Terlepas Usai Dilepasliarkan
Kabid Wilayah II BBKSDA Riau, Heru mengatakan bahwa harimau memiliki naluri dendam. Jika kawanannya diburu dan dibunuh, harimau akan marah. Ini terlihat dalam kasus penyerangan harimau Bonita di Kabupaten Inhil yang menewaskan dua orang.
"Pada dasarnya harimau akan menghindar jika bertemu manusia. Namun jika dia diusik, harimau akan marah. Harimau memiliki sifat dendam," katanya.
Baca Juga : Siswa di Riau Bertemu Harimau saat Berangkat Sekolah
(Erha Aprili Ramadhoni)