SEMARANG – Cantik, cerdas, ramah. Itu adalah tiga kata yang mewakili sosok perempuan bernama RR Mayyasari Gondhodiwiryo. Perempuan berdarah biru karena memiliki garis keturunan dari Pura Mangkunegaran Surakarta.
Sekira 15 menit pertama memulai sesi wawancara, Mayya –sapaan akrabnya- seolah tak ada jeda kosong membeber kata-kata. Setelah bercerita sedikit tentang asal muasalnya, terus berlanjut pada keinginan untuk mengangkat derajat warga miskin terutama penyandang difabel dan kaum marjinal.
Baca Juga: Hari Disabilitas Internasional, Pertuni: Pelayanan Tidak Harus Dikhususkan
Tal heran di tengah padatnya aktivitas, Mayya selalu menyempatkan untuk mendatangi berbagai panti asuhan di Jawa Tengah. Bukan hanya berbagi materi, tetapi sering pula menjadi guru dadakan yang memberikan motivasi kepada anak-anak spesial di panti.
“Saya concern penuh di-hidrosefalus anak, di Panti Wisma Kasih Bunda Kota Semarang. Setiap bulan saya ke sana. Ada pula Panti Diakonia di Ambarawa Kabupaten Semarang,” kata Mayya pelan, Kamis (12/12/2019).
“Saya ke sana memberi kebutuhan sehari-hari sambil menjadi guru dadakan. Bukan menjadi guru sih, tapi sedikit menyampaikan nasihat, menyemangati anak-anak bahwa mereka ini tak kalah dengan anak-anak lain di luar sana (luar panti),” lugasnya.
Dia menaruh harapan besar pada anak-anak yang tinggal di panti agar mendapatkan hak yang layak terutama di bidang pendidikan, kesehatan, dan pelayanan publik. Mereka juga perlu ditanamkan sejak dini tentang pemahaman kebhinekaan yang menjadi modal besar Bangsa Indonesia.
“Tuhan selalu punya mukjizat. Jangan takut jika anak istimewa, anak berkebutuhan khusus itu tidak punya masa depan, itu salah. Selama kalian mau belajar, mau berdoa, kami akan mengupayakan (bantuan) baik pribadi saya sendiri atau dari pemerintah,” tuturnya seraya menyibakkan rambut yang menutup mata.
“Saya berikan semangat kepada mereka mereka harus menghargai diri mereka sendiri. Mereka ini anak-anak yang luar biasa dan jauh lebih luar biasa daripada anak-anak lainnya yang masuk ke sekolah normal, punya orangtua, dan sebagainya,” katanya mantap.