Hari demi hari pekerjaan itu dilakukan, meskipun harus menemui banyak tantangan. Tantangan terberat di awal melakoni tugas itu ketika harus menerima jenazah dengan kondisi yang sudah rusak, berulat dan hancur alias tak utuh lagi karena kecelakaan. Namun begitu karena sudah menjadi tugas, maka semuanya dilalui dengan penuh tanggung jawab.
"Semua jenazah dengan kondisi apapun yang datang saya urus, saya mandikan lalu saya kremasi (formalin) agar bisa layak diterima keluarga," katanya.
Memang butuh waktu lama untuk menjadi peduli. Peduli akan tugas yang sedang diemban dan peduli atas jenazah yang ada, apapun kondisinya. Pada kondisi ini, lanjut Okto dia lalu mengubah cara pandangnya berkerja menjalankan tugasnya menjaga dan mengurus jenazah.
"Tidak sekadar menunaikan tanggung jawab, namun lebih itu saya bekerja dengan penuh hati. Urus jenazah harus dilakukan dengan hati tidak sekadar dengan otak semata," katanya tegas.
Lebih jauh Okto mengaku telah mengubah seluruh rasanya saat bertugas mengurus jenazah. Perasaan ikut memiliki jenazah dan ikut berduka bersama keluarga duka. Merasa seperti keluarga sendiri itulah yang akhirnya mendoronya untuk merawat (mengkremasi) jenazah dengan penuh tanggung jawab.
"Jenazah yang rusak dan tak lengkap lagi anggota tubuhnya dirawat dan dibikin sedemikan agar tak lagi seram dan mau diterima keluarga," katanya.
"Ada keluarga yang karena jenazahnya hancur dan sudah rusak agak enggan menerima jenazahnya. Tetapi saya mencoba membikin sedemikian sehingga kesan mengerikan hilang sehingga keluarga mau menerimanya," tambah Okto.