Menolak Dikarantina Dampak Virus Korona, Warga Wuhan: Lebih Baik Kami Mati di Rumah

, Jurnalis
Rabu 05 Februari 2020 10:21 WIB
Pasien virus korona jenis baru dirawat dalam ruang isolasi di rumah sakit di Wuhan, China. (Foto/Global Times)
Share :

WENJUNG WANG adalah warga Wuhan, kota di China yang merupakan pusat wabah virus korona jenis baru yang mematikan.

Melansir BBC, Rabu (5/2/2020) Wang merupakan ibu rumah tangga berusia 33 tahun, serta keluarganya bertahan di Wuhan sejak kota tersebut ditutup pada 23 Januari 2020.

Sejak saat itu, virus corona baru telah menginfeksi lebih dari 20.000 orang di seluruh dunia serta membunuh 492 orang meninggal dunia, data Selasa Februari 2020, sumber Komisi Kesehatan China.

Dalam wawancara yang langka dari kota Wuhan, Wang bercerita kepada BBC tentang perjuangan berat keluarganya untuk bertahan hidup.

Sejak dimulainya wabah virus corona, paman saya meninggal dunia, ayah saya sakit parah, dan ibu serta bibi saya mulai menunjukkan beberapa gejala.

CT scan menunjukkan paru-paru mereka terinfeksi. Adik saya juga batuk-batuk dan kesulitan bernafas.

Ayah saya demam tinggi. Suhunya 39,3C kemarin dan ia terus-menerus batuk dan kesulitan bernafas. Kami membelikan beliau mesin oksigen di rumah dan ia menggunakan mesin tersebut 24 jam sehari, 7 hari seminggu.

Ia minum obat-obatan China dan Barat saat ini. Tidak ada rumah sakit yang bisa ia kunjungi karena kasusnya belum dikonfirmasi karena kurangnya alat tes.

Ibu dan bibi saya berjalan kaki ke rumah sakit setiap hari dengan harapan ayah saya bisa dirawat inap meskipun mereka juga sedang tidak sehat. Tetapi tidak ada rumah sakit yang mau merawatnya.

Tidak ada yang menolong kami

Di Wuhan, ada banyak tempat karantina untuk mengakomodasi pasien yang menunjukkan sedikit gejala atau masih dalam masa inkubasi.

Ada beberapa fasilitas sederhana dan sangat mendasar di sana. Tapi tidak ada tempat bagi orang-orang yang sakit kritis seperti ayah saya.

Paman saya bahkan meninggal dunia di salah satu tempat karantina karena tidak ada fasilitas medis bagi orang dengan gejala parah. Saya benar-benar berharap ayah saya bisa mendapatkan perawatan yang tepat tapi tidak ada yang menghubungi atau membantu kami saat ini.

Saya menemui pekerja komunitas beberapa kali, tapi tanggapan yang saya dapatkan ialah, “tidak mungkin bagi kami untuk mendapat tempat tidur di rumah sakit”.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya