Curhat Jurnalis, Tetap Ambil Gambar Meski Busur Panah Mengoyak Pakaian

Demon Fajri, Jurnalis
Sabtu 08 Februari 2020 12:44 WIB
Hery Supandi telah makan asam garam di dunia jurnalistik (Foto: Okezone/Dok. Pribadi)
Share :

Terjebak Longsor Bercampur Lumpur Panas

Diancam dibunuh. Anak panah menempel di baju. Berada di tengah-tengah kepanikan masyarakat ketika bencana gempa, sudah menjadi bagian hidup pria 43 tahun ini. Hery juga pernah merasakan liputan bencana tanah longsor bercampur lumpur panas.

Hery bersama rekan-rekan kontributor Tv nasional, terjebak longsor di kawasan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau geothermal PT. Pertamina Geothermal Energi (PGE), Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu.

Kejadian yang terjadi pada Senin 2 Mei 2016, nyaris meregut nyawa Hery dan rekan-rekannya. Di mana material longsor datang secara tiba-tiba. Hery tetap memutuskan mengambil gambar.

Material longsor, seperti bebatuan, kayu berukuran besar, serta lumpur panas, melintas di hadapan mereka. Kejadian itu tidak membuat mereka untuk menyelamatkan diri ke tempat yang aman.

Beruntung, saat kejadian Hery dan rekan-rekannya berhasil selamat. Hal tersebut setelah adanya instruksi dari Komandan Kodim 0409/Rejang Lebong, Letkol Kav. Hendra Setiawan Nuryahya, agar mereka mundur dari lokasi tanah longsor.

''Kami waktu itu tidak bisa lari, karena material longsor bercampur lumpur panas sudah di depan mata. Maka menunggu sesaat, sembari mengambil gambar,'' cerita kontributor Trans7, ini.

Bertaruh Nyawa, Honor Dibayar per Berita Tayang


Hery telah merasakan beragam pengalaman menjadi jurnalis. Namun, honor yang diterima Hery sebagai kontributor TV, tidak sepenuhnya dapat memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Sebab kontributor hanya dibayar per berita yang tayang.

Sementara dalam menjalani profesinya Hery musti bertaruh dengan nyawa. Untuk memenuhi kebutuhan hidup, pria 43 tahun ini juga membuka usaha kopi di Bencoolen Mall. Usaha sampingan itu tidak lain honor dari kontributor setiap bulan tidak cukup.

Usaha kopi rosbusta itu sudah dilakoni suami Ine Lestari, sejak tahun 2016. Dengan adanya usaha sampingan itu dia mampu menutupi kekurangan setiap bulan. Menjadi kontributor di daerah sama sekali tidak memiliki jenjang karier yang jelas.

''Honor yang diterima setiap bulan, sama sekali tidak cukup. Musti ada pekerjaan sampingan,'' kata Hery.

Honor yang dibayar perusahaan ketika berita tayang. Jika 'jualan' atau berita tidak laku ''dijual'', maka kontributor tidak mendapatkan honor. Namun, ketika berita lagi rami atau hot di daerah, honor kontributor TV bisa mencapai Rp9 jutaan.

Rejeki menjadi kontributor sama seperti rejeki harimau. Ketika sedang banyak maka honor yang diterima cukup memuaskan. Sedihnya, ketika ''jualan'' yang ditawarkan tidak laku ''dijual''. Kondisi itu terkadang membuat kecewa.

Lebih menyedihkan, ketika berita yang tayang tidak masuk dalam rekap. Belum lagi dalam satu bulan berita tidak ada yang tayang. Sehingga penghasilan dari kontributor tidak ada. Sementara pemenuhan kebutuhan hidup musti dikeluarkan setiap bulan.

''Kontributor itu sama seperti pedagang, yang menawarkan jualan gambar. Tidak selamanya jualan itu laku,'' jelas suami dari Ine Lestari ini.

Jurnalis Tv untuk di daerah belum sepenuhnya mendapatkan perhatian. Sebab, gaji bulanan, jaminan kesehatan untuk keluarga tidak ada. Kondisi itu sangat dirasakan kontributor di daerah.

Meskipun tidak ada jaminan, Hery tetap memilih profesi ini. Pria bertubuh gempal ini telah jatuh cinta dengan dunia jurnalistik. Profesi ini telah membuat Hery banyak pengalaman, berwawasan, hingga berkenalan dengan pejabat di daerah hingga pusat.

''Menjadi jurnalis karena naluri. Walapun bertaruh nyawa, tidak mengenal waktu, profesi jurnalis sangat seru,'' sampai pria berkulit gelap ini.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya