Namun setelah beberapa hari menggunakan pupuk tersebut para petani merasa ada hal yang berbeda dengan pupuk biasanya. Saat dicampur pupuk tersebut terasa lengket. Kemasan kendor tidak seperti biasa termasuk saat digunakan beberapa hari tidak ada pengaruhnya sama sekali.
"Selanjutnya mereka melaporkan dugaan pupuk palsu tersebut ke pihak Kepolisian," paparnya
Ditambahkan Direktur Reserse Kriminal Khusus Kombes Pol R. Y. Wihastono Yoga Pranoto, setelah dilakukan pemeriksaan pupuk tersebut terbuat dari kapur dan juga bahan pewarna lain. Kemudian dibentuk menjadi butiran-butiran kemudian dimasukkan oven dan diputar selanjutnya diayak dan langsung masuk dalam karung.
"Mereka menjual pupuk tersebut lebih murah dari pupuk aslinya. Justru perbedaan harga yang tidak terlalu jauh membuat konsumen tidak terlalu curiga," lanjutnya.
Sementara itu Kapolda Jawa Tengah Irjen Pol H Rycko Amelza Dahniel sampaikan himbauaan kepada petani apabila terjadi kekurangan pupuk agar mencari pupuk di sentra-sentra penyedia pupuk yang sudah ditentukan seperti Kios Pupuk Lengkap (KPL).
"Bahkan Pemkab Wonogiri juga sudah bekerjasama dengan produsen pupuk organik untuk ketersediaan pupuk dan juga bekerjasama dengan petani milenial," jelas Kapolda.
Kemudian petani harus mengenali ciri-ciri pupuk yang diduga palsu. Seperti jika dicampur dengan pupuk urea menjadi lengket. Seharusnya itu tidak terjadi. Kemudian jika terkena tangan susah hilang.
Untuk penampakan fisiknya pupuk palsu lebih empuk juga gembur. Sedangkan yang pupuk asli lebih keras dan lebih padat. Kemudian kemasannya juga harus diteliti dengan jelas.
"Jika temukan ciri-ciri diatas segera laporkan pada pihak kepolisian," pesannya.
(Khafid Mardiyansyah)