ANKARA - Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menuduh pasukan keamanan Yunani berperilaku seperti Nazi karena menggunakan kekuatannya dalam mengatasi migran dan pengungsi yang mencoba menyeberangi perbatasan dari Turki.
Puluhan ribu orang telah berusaha masuk ke Yunani sebagai anggota Uni Eropa sejak Turki mengatakan bulan lalu bahwa mereka tidak akan lagi menahan para pengungsi di wilayahnya sebagai bagian dari kesepakatan 2016 dengan imbalan bantuan Eropa untuk pengungsi.
Pasukan keamanan Yunani menggunakan gas air mata dan meriam air untuk menghentikan orang masuk ke wilayah mereka.
Baca juga: Ribuan Imigran Dihalangi Masuk ke Yunani, Turki Tambah Pasukan di Perbatasan
Baca juga: Uni Eropa Dukung Penuh Yunani Hentikan Pengungsi Melintas dari Turki
Yunani juga telah menangguhkan permohonan suaka selama satu bulan dan demi mencegah lebih dari 42.000 orang secara ilegal memasuki UE selama dua minggu terakhir.
Di parlemen Turki, Erdogan menunjukkan kepada legislator rekaman video Partai AK yang berkuasa suasana di perbatasan Yunani.
"Tidak ada perbedaan antara gambar-gambar di perbatasan Yunani dan apa yang dilakukan Nazi," kata Erdogan mengutip Al Jazeera, Kamis (12/3/2020).
"[Mereka] menembaki orang-orang tak berdosa, memperlakuka mereka tidak manusiawi ... [Ini] adalah barbarisme dalam arti sebenarnya," lanjut dia.
Turki sebelumnya menuduh pasukan keamanan Yunani menembak mati empat orang, sebuah klaim yang dibantah Yunani. Yunani mengatakan memiliki tugas untuk melindungi perbatasan UE.
Menanggapi komentar terakhir Erdogan, juru bicara pemerintah Yunani Stelios Petsas mengecam perbandingan Holocaust.
"Kami memberi tahu semua orang bahwa mereka seharusnya tidak berusaha masuk melalui jendela. Ada pintu. Siapa pun yang berhak mendapat perlindungan harus mengetuk pintu itu dan berhak atas perlindungan berdasarkan hukum internasional," tuturnya.
(Rachmat Fahzry)