"Tradisi migrasi (mudik) ini ada dua faktor, pertama faktor budaya tradisi merantau, pulang pada waktu lebaran itu turun temurun dan melekat. Tidak bisa diubah begitu saja perilaku itu," jelas pria Ketua Ikatan Sosiologi Indonesia (ISI) Malang Raya itu.
Baca juga: Imbas Corona, Komisi III DPR-Kapolri Rapat secara Virtual
Faktor kedua menurutnya yakni ekonomi. Perilaku masyarakat yang ingin memperbaiki kesejahteraan dengan mencari pekerjaan ke kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lain sebagainya.
"Faktor ekonomi untuk memperbaiki ekonomi mereka ke kota besar, seperti Jakarta. Ini menjadi persoalan tidak bisa mereka dicegah untuk melakukan migrasi (mudik)," ujarnya.
Ia mengaku sangsi bila 100 persen masyarakat Indonesia akan mudah dicegah untuk mudik, lantaran Indonesia dipengaruhi beragam agama, adat istiadat hingga ekonomi.