ASHGABAT - Turkmenistan melarang media menggunakan kata “virus corona” dan mengancam akan menangkap warga yang memakai masker.
Kelompok Reporters Without Borders yang bermarkas di Paris, melaporkan siapa pun yang berbicara soal virus corona di Turkmenistan, akan ditangkap oleh polisi berpakaian preman di negara itu.
Sebuah stasiun radio Turkmenistan mengklaim bahwa agen-agen khusus menguping pembicaraan warga di bus dan tempat-tempat umum, yang membicarakan soal virus corona.
Turkmenistan, negara bekas Uni Soviet, itu mengklaim tidak memiliki kasus virus corona, meskipun berbatasan dengan Iran yang telah melaporkan lebih dari 44.000 kasus infeksi virus corona.
Baca juga: Presiden Jokowi Larang Daerah Blokir Jalan agar Distribusi Logistik Tak Terganggu
Baca juga: Presiden Jokowi Tegur Kepala Daerah yang Tutup Jalan karena Corona
Media milik pemerintah di Turkmenistan juga belum pernah membahas topik pandemi virus corona atau melaporkan tindakan pemerintah untuk mengatasi virus corona.
Melansir Daily Mail, Kamis (2/4/2020) Reporters Without Borders melaporkan kata “coronavirus” juga telah dihapus dari brosur informasi kesehatan yang didistribusikan ke sekolah, rumah sakit dan tempat kerja.
"Media yang dikendalikan negara tidak lagi diizinkan menggunakan kata itu," kata Reporters Without Borders, mengutip sumber berita independen Turkmenistan Chronicle, yang dilarang di negara itu.
Presiden Tukrmenistan Gurbanguly Berdymukhamedov sebelumnya mengatakan kepada para pejabat untuk melakukan pengasapan membakar harmala, yakni ramuan lokal.
Ia mengklaim bahwa dampak pengasapan bisa membasmi virus yang tidak terlihat oleh mata telanjang, jelasnya tanpa menyebutkan Covid-19.
Berdymukhamedov, seorang mantan dokter gigi, telah memerintah negara itu sejak 2006.
Radio Azatlyk, sebuah stasiun berbahasa Turkmenistan, mengklaim bahwa agen layanan keamanan berpakaian preman menahan warga yang berbicara mengenai virus corona.
"Agen khusus mendengarkan percakapan di halte, di dalam bus," kata stasiun radio itu.
Meskipun demikian, pemerintah telah mengambil beberapa tindakan pencegahan kesehatan masyarakat. Liburan sekolah telah diperpanjang tanpa menyebutkan alasannya.
Nasabah bank di ibu kota Ashgabat, diberikan tisu basah dan disemprot dengan desinfektan di mulut mereka.
Temperatur diperiksa di bus kota dan kendaraan dibersihkan dengan larutan klorin. Namun, pertemuan massal belum dilarang.
Pemerintah Turkmenistan mengklaim bahwa negara itu adalah salah satu tempat terakhir di Bumi yang bebas virus corona.
Peringkat terakhir dalam Indeks Kebebasan Pers Dunia 2019, Turkmenistan adalah salah satu negara paling tertutup di dunia, kata Reporters Without Borders.
(Rachmat Fahzry)