LSI Denny JA: 99% Kasus Covid-19 Tuntas Sebelum Vaksin Ditemukan

Fadel Prayoga, Jurnalis
Rabu 29 April 2020 15:21 WIB
Direktur LSI Denny JA (Foto: iNews)
Share :

Bersama Indonesia dalam kategori B (kecepatan menengah) adalah antara lain seperti Singapura, India, Kanada, Iran, dan Denmark. 

Negara kategori A (Penanganan Cepat) antara lain Negara China, Korea Selatan, Jerman, United Kingdom, Malaysia dan Amerika Serikat. Negara ini tergolong paling cepat di dunia, di luar China yang menuntaskan virus corona 99 persen. Negara Kategori C (Penanganan Lambat) antara lain negara Columbia, Bahrain, Argentina, dan Qatar.

Kategori cepat lambat itu tak seluruhnya berarti tingkat kemampuan negara menangani virus corona. Ia juga ditentukan oleh lebih awal atau lebih belakangan virus corona menyebar ke negara itu.

“Yang dimaksud dengan 99 persen tuntas adalah situasi di mana penambahan kasus baru hari per hari menunjukkan grafik yang konsisten menurun. Tidak berarti tak ada lagi korban baru yang terpapar virus. Namun jumlahnya dilihat dari grafik sudah sangat menurun,” tuturnya.

Klaim 100 persen virus corona dianggap tuntas hanya dilakukan ketika vaksin ditemukan. University of Singapore memprediksi 100 persen tercapai di bulan Desember 2020. Hanya dua negara yang 100 persen tuntas di bulan Feb-April 2021. Namun prediksi itu dilakukan semata berdasarkan proyeksi data.

Berbeda dengan Univesity of Singapore, LSI Denny JA mendasarkan 100 persen tuntas itu pada penemuan vaksin. Khusus 100 persen tuntas itu tidak dikembangkan dari model proyeksi data. LSI Denny JA mengelaborasi banyak negara dan perusahan besar yang berlomba menemukan vaksin untuk virus corona. Diprediksi vaksin pertama yang bisa dipakai luas terjadi sekitar Mei- Juli 2021. Saat itulah 100 persen virus corona tidak menjadi masalah bagi manusia.

Walau prediksi yang dibuat LSI Denny JA berdasarkan metode ilmiah yang bisa dipertanggung jawabkan, namun model itu dibangun dengan aneka asumsi. Dengan sendirinya jika asumsi itu dilanggar, prediksi tak terjadi.

Asumsi yang utama adalah protokol kesehatan yang ditetapkan WHO, aneka pemerintahan, termasuk pemerintah Indonesia, dipatuhi. Protokol kesehatan itu antara lain social distancing, physical distancing, menggunakan masker, mencuci tangan, dan lain sebagainya.

Asumsi lain, vaksin ditemukan pertengahan tahun depan jika kecepatan penelitian labolatorium sama seperti yang sekarang terjadi. Tidak pula lahir mutasi baru virus corona yang kembali menyerang. Ini asumsi berikutnya.

“Jika asumsi di atas terlanggar, dengan sendirinya aneka prediksi di atas tak berlaku. Pembaca diharap memberlakukan prediksi itu dengan hati-hati,” tuturnya.

“Test bagi peradaban modern secara sempurna diuji oleh datangnya virus corona (Covid-19). Sangatlah nyata. Betapa kita sudah mampu terbang ke planet lain. Senjata nuklir kita bisa memusnahkan bumi berkali- kali. Artificial inteligence bisa mengalahkan otak manusia. Namun, ternyata peradaban tak siap dengan serangan virus yang sangat kecil. Kita senang karena agaknya drama virus corona berakhir dengan happy ending. Kehidupan sosial banyak negara, termasuk Indonesia bisa normal kembali sebelum vaksin ditemukan,” katanya.

Denny JA menuturkan, untuk Indonesia, seminggu-dua minggu setelah lebaran, jika protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah dipatuhi, di bulan Juni 2020, kehidupan kembali hampir normal. Saat itu, pengusaha dan pekerja dapat kembali ke kantor. Politisi dapat kembali menggelar rapat. Rakyat dapat berkumpul di kafe, serta para penyair dapat membacakan puisi di berbagai mimbar.

“Tentu protokol kesehatan seperti social distancing, memakai masker, mencuci tangan tetap dipatuhi sebelum vaksin ditemukan,” ujarnya. 

(Arief Setyadi )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya