Belajar Daring Bikin Semangat Kering

Khafid Mardiyansyah, Jurnalis
Rabu 29 April 2020 20:51 WIB
Ilustrasi (Dok. okezone)
Share :

DINAR Tungga Dewi, salah seorang guru SD di Kabupaten Bogor mengaku tengah mempersiapkan video edukasi untuk muridnya yang kini tengah belajar di rumah. Wanita 29 tahun itu tak dapat memungkiri bahwa sejak ditetapkannya pembelajaran di rumah, kondisi psikologis muridnya diselimuti rasa jenuh.

Sejak 16 Maret 2020, Pemerintah Kabupaten Bogor menerapkan pembelajaran di rumah untuk mencegah penyebaran Virus Corona. Sistem belajar diubah lebih kepada pembelajaran secara daring dan rencananya akan terus dilakukan hingga 29 Mei 2020.

"Tuntutan sebagai seorang guru memaksa kita harus berinovasi dan kreatif untuk menghadapi kondisi apapun, agar pembelajaran tetap efektif dan menyenangkan. Kita dapat mengadakan video call bersama dengan berbagai macam aplikasi,” jelas guru kelas I SDIT Bina Mujtama itu kepada Okezone, Rabu (29/4/2020).

Dinar tak bisa memungkiri bahwa pembelajaran di rumah kurang efektif dan menemui banyak kendala. Orangtua yang masih bekerja hingga memiliki anak lebih dari satu, dipercaya akan menemui kendala paling berat dalam membimbing anak untuk belajar di rumah.

“Hanya sebagian kecil yang dapat fokus untuk membimbing full pembelajaran di rumah hingga tercapainya indikator pembelajaran. Memang tidak dapat dipungkiri Interaksi Guru ke anak-anak dan teman-temannya tidak dapat dipisahkan,” ungkapnya.

Senada, Dosen Fakulktas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara (FIB USU) Deddy Rahmat Sitinjak mengakui, pembelajaran di rumah akan menemui banyak kendala. Menurut dia, tak semua mahasiswanya tinggal di kota, sehingga pembelajaran secara online hanya akan menambah beban mereka selama belajar.

“Masih banyak yang tinggal di pelosok desa hingga tidak memungkin kan untuk dapat menggunakan internet yang membutuhkan kuota dan kapasitas besar seperti Zoom,” curhatnya.

USU sendiri mengganti sistem pembelajaran tatap muka, dengan pembelajaran secara daring sejak 17 Maret 2020 lalu. Keputusan itu diambil berdasarkan surat keputusan rektor, nomor 3195/UNS. I.R/KPM/2020.

“Mahasiswa sudah pulang sejak diliburkan di gelombang pertama, kan ada dua kali gelombang perpanjangan libur. Jadi pada pulang semua di minggu pertama libur,” jelasnya.

Sementara, dosen Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Silvina Mayasari mengaku harus ada kesadaran masing-masing dari mahasiswa. "Karena kalau dosennya aktif sementara mahasiswanya nggak ya susah juga. Harus ada timbal baliknya, jadi kita sama-sama sadar diri aja," ujar Silvina.

Apalagi, sambung Silvina saat ini memang dalam kondisi yang serba terbatas jadi bagaimana caranya bisa memaksimalkan. "Saya sebagai dosen bisa mengajar maksimal dan mahasiswa saya bisa mendapatkan materi dengan maksimal. Karena mereka ini kan membayar," tuturmya.

Sedangkan untuk hambatan belajar virtual pasti ada. Menurutnya terutama di daerah yang belum sepenuhnya akses internet bagus, lain hal bila di Jabodetabek.

"Di Jabodetabek itu mahasiswa saya kalau pertemuan pakai zoom mereka mengeluh 'bu jangan pakai zoom terus, kuota saya habis, sinyalnya gak stabil' karena zoom itu lumayan besar makan data," jelasnya.

Dengan begitu, untuk juga membantu beban mahasiswa, setiap dosen itu harus mampu mengkombinasi antara zoom, clas room atau pakai whatsapp group. Sehingga tidak terpaku pada satu aplikasi saja.

Tahun Ajaran Baru Ditunda?

Ketua Umum Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI) Seto Mulyadi atau yang kerap disapa Kak Seto menjelaskan bahwa banyak anak tertekan dan stres saat adanya pembelajaran di rumah.

Ia pun secara tegas meminta tahun ajaran baru ditunda satu semester, karena ia yakin, anak tak akan mencapai indikator pembelajaran jika terus belajar di rumah.

“Jadi mohon Kemendikbud memberlakukan kurikulum ini kurikulum darurat. Jadi jangan sepenuhnya dibebankan kepada anak sesuai dengan standar yang harus tercapai. Mungkin ya tahun ajaran baru diundur. Dulu tahun ajaran baru Indonesia masuk Januari, tapi ada situasi, kalau tak salah zaman G30s, sistem pembelajaran diundur satu semester,” ungkapnya kepada Okezone.

Ia pun mendesak pemerintah untuk menghentikan tugas menumpuk di rumah, karena hal tersebut justru akan membuat anak semakin tertekan di tengah Pandemi Covid-19.

“Anak sehat itu juga harus psikologinya sehat. Jangan dibebani. Kasihan anak-anak. Jika orangtua stres, anak juga stres, akhirnya terjadi konflik di dalam keluarga. Saya juga banyak mendapat laporan anak-anak yang mengadu (kalau mereka tertekan). Ini kok jadi begini, orangtua juga mengadu,” paparnya.

Kak Seto pun meminta kepada guru untuk tak membebankan anak dengan tugas yang menumpuk. Agar anak tak stres, ajarkan anak untuk melakukan sesuatu yang ia suka terlebih dahulu sebelum memulai pembelajaran.

“Mohon para guru bisa memberikan suasana yang lebih nyaman. Tugasnya juga harus kreatif aja. Misal membuat gambar, kalau anak senang nyanyi, mungkin lagu itu direkam dikirim melalui Whatsapp. Misalnya juga membuat puisi tentang corona. Membuat lukisan bagaimana aku gembira bisa selalu bersama ayah dan bunda. Buatlah susana nyaman,” ungkapnya.

Kementerian Pendidikan dan kebudayaan (Kemendikbud) sejauh ini belum merespon adanya desakan untuk menunda penerimaan siswa baru. Kemendikbud hanya menyebarkan mekanisme Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) yang tertuang dalam Surat Edaran Mendikbud No.4 Tahun 2020.

Dalam surat edaran itu, Dinas Pendidikan dan sekolah diminta menyiapkan mekanisme PPDB yang mengikuti protokol kesehatan untuk mencegah penyebaran Coviod-19 dan diimbau dilaksanakan secara daring. Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikbud, akan menyediakan bantuan teknis bagi daerah yang memerlukan mekanisme PPDB daring.

Tak Semua Sekolah Bisa Daring

Kemedikbud menyadari belum semua sekolah di Indonesia siap dengan sistem pembelajaran daring. Kepala Biro Komunikasi Kemendikbud Ade Erlangga Masdiana, menjelaskan pemerintah pusat akan mendorong pemerintah daerah menerapkan sistem tersebut.

Menurut Ade, masalah sistem pembelajaran daring yang dialami sejumlah sekolah seharusnya tidak terjadi. Kalaupun terjadi, dinas pendidikan setempat yang harusnya bergerak mengatasi masalah itu.

"Makanya setiap daerah, dinas pendidikan harus buat acuan pedoman atau prosedur operasi standar (POS) itu harus betul-betul tepat sehingga proses pembelajaran selama dua minggu ini bisa berjalan dengan baik," ujarnya seperti dikutip dari BBC Indonesia.

Di lain pihak, Forum Aksi Guru Indonesia (FAGI) menilai seharusnya sistem pembelajaran daring ini tidak menjadi kendala bagi sekolah. Pasalnya, di era teknologi digital ini semua orang sudah akrab dengan gawai.

"Sebetulnya sistem daring itu sudah berjalan. Tidak ada corona pun daring sudah berjalan, sudah terbiasa. Kenapa FAGI mendesak sekolah diliburkan karena kami sudah tahu di lapangan. Belajar itu sekarang lebih dimudahkan, tidak perlu membagi buku kepada siswa, toh e-book dan semua materi pelajaran sudah bisa dikirimkan lewat media sosial yang sederhana," kata Ketua FAGI, Iwan Hermawan.

Hingga hari ini, Rabu (29/4/2020) tercatat sebanyak 97,6 persen sekolah sudah melakukan pembelajaran jarak jauh. Sisanya sebanyak 2,4 persen belum melakukan karena daerahnya tidak terjangkit corona atau tidak memiliki perangkat pendukung.

Dari jumlah 97,6 persen tersebut, sebanyak 54 persen sekolah sudah melakukan pembelajaran jarak jauh sepenuhnya, yakni guru dan siswa mengajar dan belajar dari rumah.

46 persen lainnya, guru masih mengajar dari sekolah, tapi muridnya di rumah. Hal tersebut disebabkan banyak sekolah yang masih mewajibkan guru untuk datang ke sekolah.

(Khafid Mardiyansyah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya