Alhasil, mau tidak mau ia tetap harus berjuang di pinggiran Ibu Kota di tengah wabah corona. Meski begitu, ia berharap pemerintah bisa memberi perhatian lebih untuk memenuhi kebutuhan hidup khususnya para sopir bajaj.
Tak jauh berbeda, Mulyono (50) sopir angkot M20 jurusan Jagakarsa-Pasar Minggu ini juga merasakan pahitnya mencari penumpang di tengah virus Covid-19. Sejak pemerintah menerbitkan aturan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), penumpang mendadak hilang.
Dalam satu kali perjalanan atau satu rit Mulyono hanya bisa mendapat Rp10 sampai Rp20 ribu. Kondisi tersebut berbanding terbalik disaat kondisi normal yang bisa mendapat lebih dari Rp50 ribu.
"Penghasilan turun drastis sekarang ini 80 persen hilang. Sekarang satu hari 100 ribu lah dapat paling," tuturnya.
Hasil itu jauh dari kata cukup untuk memenuhi kehidupan keluarganya. Mulyono tinggal bersama isteri dan dua anaknya yang kini duduk di sekolah SMK dan SD.
Sebagai tambahan memenuhi kebutuhan sehari-hari terpaksa sang istri ikut bekerja di rumah tetangganya. Semua itu dilakukan demi bisa bertahan hidup ditengah kondisi ekonomi yang kian memerihatinkan.
"Mudah-mudahan ini semua cepat selesai biar, senua yang kerja kembali normal lagi," tutupnya.
(Arief Setyadi )