“Biasanya ada siklus lima tahunan. Tapi sekarang ini seperti mendahului di 2020, karena perkiraan kami ini terjadi di 2021,“ ujarnya, menukil laman Balipost, Rabu (13/5/2020).
Dia menjelaskan, petugas sudah melakukan pengecekan, hingga dilakukan proses fogging untuk seluruh daerah yang dipastikan terjangkit DBD. “Harus ada temuan kasus dulu. Setelah itu, dilakukan penyelidikan dikuatkan dengan hasil lab, baru kemudian dilakukan fogging oleh dinas,“ katanya.
Anom mengimbau kegiatan fogging tidak dilakukan secara mandiri. Terlebih bahan fogging mengandung zat kimia yang tidak baik untuk kesehatan. Ada sejumlah dampak yang bisa dialami manusia akibat fogging, mulai dari gangguan pencernaan, mual, muntah dan diare.
(Rizka Diputra)