JAKARTA - Asosiasi Televisi Swasta Indonesia (ATVSI) mengungkap bahwa industri pertelevisian Free To Air (FTA) mengalami penurunan pendapatan yang cukup signifikan beberapa bulan terakhir. Hal ini disebabkan lantaran adanya kondisi bencana non-alam Corona Virus Disease 19 (Covid-19) yang telah melanda Tanah Air.
Ketua Umum ATVSI, Syafril Nasution menyampaikan bahwa selama masa covid-19 ini yang dimulai di awal bulan Maret lalu hingga sampai bulan Juni itu pendapatan televisi ini mengalami penurunan yang sangat drastis. Ia menyadari, pandemi ini tak hanya berdampak pada sektor industri televisi, melainkan sejumlah sektor ekonomi lainnya.
"Kami ini mengalami bisa dikatakan penurunan pendapatan hingga mencapai 42-45 persen. Karena memang pertumbuhan ekonomi kita juga terpengaruh," kata Syafril dalam seminar Fraksi PPP bertajuk 'Menyoal Regulasi dan Digitalisasi Penyiaran' yang digelar di Kompleks Parlemen, Jakarta, Rabu (15/7/2020).
Dia melanjutkan, kondisi ini kemudian diperparah lagi dengan hadirnya media baru berbasis jaringan internet atau yang biasa disebut dengan Over The Top (OTT). Dimana, katanya, terjadi pergeseran jumlah pemirsa yang semula menonton televisi kemudian memilih berpindah ke gawainya.
"Dan ini sangat mempengaruhi. Ini yang bener-bener mempengaruhi FTA itu," ujarnya.
Syafril pun merujuk hasil survei yang telah dihimpun oleh Asosiasi pengguna jasa internet indonesia (APJII) , jumlah penghuna internet pada tahun 2017 kemarin menyentuh angka 143,26 juta pengguna atau 34,68 persen dari total penduduk sebesar 262 juta. Kemudian, angka itu melonjak drastis pada tahun 2018 yang lalu, dimana pengguna jasa internet ini mencapai 171,17 juta pengguna atau 68,8 persen dari total penduduk sebesar 264 juta.
"Jadi memang yang menggunakan jasa internet atau media baru tadi sebagai pengganti Free To Air cukup besar dan ini terus berkembang pesat," pungkasnya.
(Khafid Mardiyansyah)