Penyandang Tuli Terkendala Akses Informasi di Tengah Pandemi Corona

Arie Dwi Satrio, Jurnalis
Minggu 09 Agustus 2020 03:22 WIB
Ilustrasi (Foto : Shutterstock)
Share :

JAKARTA - Ketua Pusat Bahasa Isyarat Indonesia, Laura Lesmana Wijaya menyampaikan bahwa sejak dulu penyandang tuli tidak pernah mendapatkan informasi yang cukup ketika terjadi bencana alam di Indonesia. Akses informasi juga tidak cukup didapatkan para penyandang tuli pada saat pandemi virus corona.

"Saya berpikir sebenarnya kendala yang dihadapi orang dengar dan tuli itu sama, yang membedakan adalah masalah pada pemberian akses komunikasi itu sendiri," kata Laura saat berdialog melalui ruang digital di Media Center Satuan Tugas Penanganan Covid-19 yang ditayangan di akun Youtube BNPB, Jumat 8 Agustus 2020.

Untuk membantu penyandang tuli di masa pandemi Covid-19 ini, Laura beranggapan bahwa hal pertama yang perlu dilakukan adalah seluruh masyarakat harus memiliki kemauan untuk mempelajari bahasa isyarat. Hal ini dikarenakan penyandang tuli hanya akan mendapatkan informasi apabila terdapat akses komunikasi berupa juru bahasa isyarat.

Pada kasus pemberian bantuan sosial, sambungnya sebagian penyandang tuli telah mendaftarkan dirinya ke Kementerian Sosial (Kemensos) dan mendapatkan bantuan tersebut. Namun, sebagian lainnya, tidak memberikan data yang lengkap, sehingga bantuan tidak dapat diberikan.

"Sebelum mendaftar, tentu (penyandang) tuli itu perlu mendapatkan informasinya dulu, bagaimana caranya mendaftar. Supaya dia tahu caranya mendaftar ke kementerian terkait, tentu harus ada akses informasi yang diberikan yang sesuai dengan kebutuhan," jelas Laura.

Lebih lanjut, Laura mengatakan bahwa pandemi Covid-19 berdampak bagi penyandang tuli. Dampak positifnya, pemerintah dan masyarakat kini mulai memberikan perhatian lebih kepada penyandang tuli dengan menyediakan layanan juru bahasa isyarat, seperti yang dilakukan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 dalam konferensi pers.

Baca Juga : Kemendagri Tegaskan Otsus Papua Bukan Sekadar Bagi-Bagi Uang

Kendati demikian, tetap terdapat dampak negatif bagi anak-anak penyandang tuli yang masih bersekolah. Pandemi ini mengharuskan pemerintah menutup tempat-tempat umum, termasuk sekolah bagi penyandang tuli. Kemudian anak-anak penyandang tuli pun diarahkan untuk tetap berada di rumah.

"Sedangkan komunikasi dengan orang tua mereka tidak bisa dilakukan secara maksimal. Karena biasanya orang tua mereka adalah orang tua yang bisa mendengar dan belum sepenuhnya tahu cara berkomunikasi dengan anak mereka, sehingga anak (penyandang) tuli pun tidak merasakan adanya kenyamanan," bebernya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya