Megawati menuturkan bahwa dalam istilah Bahasa Jawa, perempuan itu sering disebut sebagai konco wingkin (teman di belakang). Bahkan ada pula istilah bahwa jika masuk surga perempuan itu katut (terbawa), masuk neraka itu nunut (menumpang). Namun, dia menolak istilah-istilah tersebut.
“Sudah bukan jamannya lagi kaum perempuan berbunyi itu seperti apa yang tadi saya katakan peribahasa Jawa itu. Karena kenyataan di lapangan banyak sekali bapak dan ibu bekerja untuk membesarkan anak-anaknya supaya anak Indonesia menjadi bergoizi dengan makanan. Lalu pintar otaknya. Sehingga mereka dapat meneruskan sekolah tidak hanya sampai di tingkat SD atau SMP atau SMA tapi seluruhnya dapat melakukan hal itu sampai di tingkat Universitas,” paparnya.
Lebih lanjut Megawati menilai bahwa kiprah perempuan dapat semakin luas. Namun tentunya harus dibuka ruang oleh pemerintah maupun di internal keluarga masing-masing.
(Rahman Asmardika)