Kisah 6 Srikandi Perintis Polwan saat Masa Revolusi

Fahmi Firdaus , Jurnalis
Selasa 01 September 2020 10:55 WIB
foto: Okezone
Share :

JAKARTA – Hari ini, 1 September 2020 srikandi di Korps Bhayangkara merayakan hari jadinya ke-72 tahun. Saat ini, peran Polisi Wanita atau Polwan tidak kalah pentingnya. Bahkan, banyak Polwan yang berprestasi dan berpangkat jenderal yang mengisi sejumlah pos penting di Mabes Polri.

(Baca juga: Atraksi 25 Polwan Lempar Senjata Ini Bisa Bikin Nyali Penjahat Ciut)

Di HUT Polwan ini, Okezone pun kembali mengulas cikal bakal lahirnya Polwan yang didirikan pada 1 September 1948, di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat, saat Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) menghadapi Agresi Militer Belanda II.

(Baca juga: 20 Polwan Kendarai Motor Trail Curi Perhatian di Pernikahan Bobby-Kahiyang)

Sedianya Jawatan Kepolisian Negara (sebutan lama Polri) di Yogyakarta, sudah memendam niat untuk membentuk satuan polisi yang berisi para wanita. Tapi situasi politik dan keamanan di masa revolusi memaksa kepolisian belum bisa menggelar pendidikan Polwan.

Saat itu, Polwan dibutuhkan untuk melakukan penanganan terhadap kejahatan yang melibatkan korban dan pelaku wanita. Namun akhirnya, pada 1 September 1948, sekolah pendidikan polisi untuk wanita bisa didirikan di Kota Bukittinggi, Sumatera Barat oleh enam orang gadis.

Keenam gadis itu kebetulan semuanya berasal dari Bukittinggi, yakni Mariana Saanin Mufti, Nelly Pauna Situmorang, Rosmalina Pramono, Rosnalia Taher, Dahniar Sukotjo dan Djasmainar Husein.

Mereka inilah yang merintis Polwan setelah melalui tahap seleksi untuk masuk “Pendidikan Inspektur Polisi” atau yang kini biasa disebut Sekolah Polisi Wanita (Sepolwan) dan hari pertama mereka masuk pendidikan pada 1 September itulah yang kini selalu diperingati sebagai HUT Polwan.

Namun, Agresi Militer II Belanda berkode “Operatie Kraai” pada 19 Desember 1948, membuat keenam gadis remaja itu belum bisa merampungkan pendidikannya sehingga harus tertunda. Keenam calon Polwan itu ikut mengawal pengungsian rakyat demi menjauhi titik peperangan.

Dalam pengungsian itu juga pastinya diharuskan ada pemeriksaan untuk mencegah penyusup. Di sinilah keenam Polwan itu memainkan perannya, untuk menggeledah setiap pengungsi wanita dan anak-anak.

Akan tetapi tidak sebagaimana kolega kaum hawa mereka yang tergabung dalam Laswi (Laskar Wanita), keenam Polwan itu menurut catatan belum pernah ikut terlibat pertempuran dengan lawan.

“Belum pernah ada catatan tentang sepak terjang Polwan turut mengangkat senjata melawan belanda,” jelas penggiat sejarah revolusi, Wahyu Bowo Laksono kepada Okezone, beberapa waktu lalu.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya