Presiden Jokowi : Kesehatan Masyarakat Prioritas, tapi Bukan Berarti Korbankan Ekonomi

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis
Sabtu 03 Oktober 2020 22:16 WIB
Presiden Jokowi. (Tangkapan layar Youtube Setpres)
Share :

JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyatakan sejak awal pemerintah memprioritaskan kesehatan masyarakat dalam menghadapi pandemi Covid-19.

"Kesehatan masyarakat, kesehatan publik, tetap nomor satu, tetap yang harus diutamakan. Ini prioritas. Tetapi memprioritaskan kesehatan bukan berarti mengorbankan ekonomi," ujar Jokowi melalui pernyataan yang diunggah di akun YouTube Sekretariat Presiden pada Sabtu, (3/10/2020).

Menurut Jokowi beriringan dengan prioritas kesehatan tersebut, pemerintah juga mengeluarkan tindakan untuk meminimalkan dampak ekonomi yang ditimbulkan akibat pandemi. Karena menjadikan kesehatan masyarakat sebagai prioritas bukan berarti harus mengorbankan aspek ekonomi. Pasalnya, kedua hal itu berkaitan dengan kehidupan masyarakat luas.

"Jika kita mengorbankan ekonomi, itu sama saja dengan mengorbankan kehidupan puluhan juta orang. Ini bukan opsi yang bisa kita ambil. Sekali lagi, kita harus mencari keseimbangan yang pas," katanya.

Jokowi menekankan selama berbulan-bulan, pemerintah selalu berupaya memperoleh dan menjaga keseimbangan itu melalui langkah-langkah dan kebijakan yang diambil. Ia menilai penanganan pandemi di Indonesia tidaklah buruk.

"Kalau Indonesia dibandingkan dengan negara kecil yang penduduknya sedikit, tentu perbandingan seperti itu tidak menggambarkan keadaan sebenarnya," tuturnya.

Jokowi kemudian memaparkan data terakhir per 2 Oktober misalnya, Indonesia berada pada posisi 23 di tingkat kasus positif Covid-19 dari semua negara-negara di dunia dengan jumlah sebanyak 295.499 kasus.

Di atas Indonesia, terdapat sejumlah negara yang juga berpenduduk besar dengan jumlah kasus yang terpaut jauh bila dibandingkan negara kita. Misalnya Amerika Serikat di peringkat pertama dengan 7.495.136 kasus, disusul India dengan 6.397.896 kasus, Brazil dengan 4.849.229, dan Rusia dengan 1.194.643 kasus.

"Dalam hal ekonomi, pencapaian kita juga tidak jelek. Ekonomi kita menurun, betul. Ini fakta. Tapi mana ada negara yang tidak menurun ekonominya (dalam situasi ini). Bahkan, ada banyak negara lain yang harus memikul beban ekonomi lebih parah," tuturnya.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita News lainnya