Vaksin kedua, lanjut Yuri, yaitu Sinopharm. Perusahaan BUMN milik Tiongkok itu pun telah melakukan uji klinis fase tiga di beberapa negara seperti Uni Emirat Arab dan Turki, serta Tiongkok sendiri.
"Sinopharm sudah memberikan komitmen ke kita, dia dual use juga, untuk bulan desember bisa mengirimkan 15 juta dosis. Artinya kalau dia penyuntikannya dua kali maka bisa digunakan 7,5 juta orang," ucapnya.
Kemudian, untuk vaksin CanSino, Yuri menjelaskan, memberikan kesanggupan untuk mengirimkan vaksin ke Indonesia sebanyak 100.000. Menurutnya, metode CanSino berbeda ketimbang dua vaksin di atas yang menggunakan dual use, akan tetapi, CanSino hanya single use saja.
"Kesanggupannya adalah 100.000 dosis. Sehingga kalau di total pada bulan November dan Desember kita sudah mendaparkan kepastian ketersedian untuk digunakan vaksinasi bagi 9,1 juta orang," tuturnya.
Hingga saat ini, Kementerian Agama (Kemenag) dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) kata, Yuri sedang memastikan kehalalan daripada vaksin kepada ketiga produsen vaksin tersebut. Selain itu BPOM, juga tengah mengurus izin emergency use (penggunaan darurat).
"Semuanya akan selesai kira-kira itu di akhir bulan Oktober, setidaknya minggu awal November kita sudah mendapatkan kepastian tentang keamanan dalam terminologi kita. Aman dalam aspek manfat dan akibat yang dikeluarkan oleh BPOM dan aman dalam aspek kehalalan yang dikeluarkan oleh Kemenag dan MUI," ungkapnya.
(Awaludin)